Holaaa, sobat menulis. Udah berbulan-bulan nggak ketemu founder cantik. Belakangan ini, yang lagi super eksis di website SMC adalah karya-karya alumni. Yeeeay, pagi ini founder cantik balik lagi!
Gimana kabar kalian di bulan April ini? Bulan yang katanya mendebarkan buat cowo-cowo Thailand terkait wajib militer. Tapi jadi bulan istimewa bagi ciwi-ciwi Indo karena ada hari Kartini.
Eits, kita nggak bakal bahas hari Kartini di sini. Founder cantik mau spill alasan kenapa ghosting dari web beberapa bulan terakhir. Itu karena aku baru kelar nulis sebuah buku! Yups benar, aku nulis buku lagi tahun ini. Sebuah buku bertema slice of life berjudul “Kertas-Kertas Waktu”.
Kok judulnya ada kertas-kertasnya sih? Itu kayak nama band yang nyanyi: aku mentari tapi tak menghangatkanmuuu … sekarang namanya ganti jadi Armada, guys. Enggak, enggak, bukan yang kayak gitu. Kertas-Kertas Waktu adalah frasa yang puitis untuk menyebut uang. Yes, I mean uang kertas Indonesia. Buku yang kutulis itu bercerita tentang anak tampan dan kaya, keluarganya kolektor uang lama, tapi ironisnya sang anak nggak bisa menghitung uang karena punya diskalkulia. Sedih ya.
Yeah, kuakui kalau Kertas-Kertas Waktu itu project Roro Jonggrang aka mendadak beut. Seketika aku dapet inspirasi, gercep riset, trus mulai nulis. Start nulis dari tanggal 15 Februari dan selesai di tanggal 18 Maret. Total ada 33 hari menulis, 137 halaman, dan 30 bab. Capek? Sangat. Namun super puas!
Ada beberapa hal yang aku riset selama menulis Kertas-Kertas Waktu. Pertama, tentang diskalkulia. Ada yang belum tahu apa itu diskalkulia? Itu adalah semacam learning disability; hambatan belajar Matematika lebih tepatnya. Orang dengan diskalkulia akan kesulitan memahami dan memodifikasi angka. Selain itu, mereka cenderung kesulitan memahami waktu dan arah (spasial). Nggak heran kalo orang dengan diskalkulia susah membedakan kanan dan kiri. Kanan-kiri ya, bukan susah bedain hati dia.
Hal kedua yang kuteliti adalah mengenai uang kertas Indonesia. Aku kulik dikit sejarahnya. Beberapa desain uang kertas lama kujadikan simbol metafora di dalam cerita. Misalnya uang hijau bergambar orangutan Kalimantan melambangkan rindu Alvan Winatra-tokoh utama kita-pada sang ayah, Asya Winatra, yang sibuk mengurus perusahaan di Kalimantan sana. Atau lembaran uang bergambar anggrek bulan perlambang rasa kangen Alvan pada sang Mama, Bu Olivia, yang masih stay di US.
Last but not least, hal terakhir yang aku pelajari sebagai bahan penulisan Kertas-Kertas Waktu adalah terapi perilaku dialektis atau DBT. Ini jadi sesuatu yang baru buatku. Aku aja baru dengar istilah itu pas riset Kertas-Kertas Waktu. Terapi ini diketahui efektif membantu anak mengatasi keinginan mengakhiri hidup. Aduh, agak serem ya, pagi-pagi bahas begini.
Aku punya alasan untuk menulis Kertas-Kertas Waktu. Berawal dari postingan lomba menulis buku anak dari Perpustakaan BI Jawa Barat. Salah satu temanya adalah cinta, bangga, dan paham Rupiah atau CBP Rupiah kalo nggak salah. Trus aku cari referensi cerita yang sesuai dengan tema itu. Omo…isinya sama semua! Tentang anak yang rajin menabung. Bosen nggak sih? Kemudian aku kepikiran sesuatu: kenapa nggak bikin yang beda? Dan…voila, terlintaslah ide seputar diskalkulia itu. The problem is, nulis tentang diskalkulia nggak gampang, besty. Referensinya dikit. Masih banyakan referensi cerita disleksia. Aku jadi curiga kalo nggak semua orang notice tentang kelainan belajar yang satu ini.
Satu, dua, tiga, aku keasyikan nulis juga. Naskahku pun melebihi jumlah halaman yang disyaratkan lomba. Alhasil aku potong aja tuh naskah. Versi pendek yang tiga part kukirimkan ke lomba, dan aku lanjut kebut-kebutan nulis lagi sampai 30 part. Makin ke sini, aku kian menyadari bahwa Kertas-Kertas Waktu bukan lagi tentang buku anak. Soalnya ada beberapa unsur di buku ini yang nggak bakal diterima oleh pasar buku anak mainstream. Akhirnya genrenya kuganti jadi slice of life. Nah, ini yang pengen aku bahas sama kalian.
Selama menulis Kertas-Kertas Waktu, aku juga rajin baca cerita anak di tempat lain. Misalnya di majalah Bobo yang masih eksis samsek. Sumber lainnya adalah buku-buku anak Indonesia yang kuakses berkat keanggotaanku di perpustakaan digital. Pola yang kutemukan hampir seragam. Coba perhatikan deskripsi ini.
Syifa sekarang kelas 4 di SDIT Bina Islami. Syifa anak sulung dan hanya mempunyai seorang adik. Kulitnya berwarna seperti sawo matang dan matanya bulat. Walaupun pipinya chubby seperti bakpao, tapi kalau ia tersenyum ada lesung pipit di pipinya. Syifa selalu memakai kerudung bila keluar rumah. Dan ia sangat suka memakai kerudung yang ada pita di kedua sisinya. Syifa sangat menyayangi binatang, meski di rumahnya tidak boleh memelihara binatang. Semula, Syifa anak yang kurang bertanggung jawab. Bunda selalu menyuruhnya berkali-kali untuk mengerjakan kewajibannya. Namun setelah ada Tibu, Syifa berubah menjadi anak manis yang bertanggung jawab.
(Tibu, Kucing Kesayangan Syifa-Amalia Dewi Fatimah dan Haya Nayla Zhafirah)
Kebetulan Alvan juga tampan. Hidungnya mancung, dagunya runcing, wajahnya tirus tipikal blasteran, kulitnya putih, rambutnya lurus, dan matanya teduh. Tapi Alvan selalu bilang kalau Esvand lebih tampan darinya.
(Kertas-Kertas Waktu-L Maurinta W)
Beda, kan? Perhatiin deh dua deskripsi itu. Bayangin kontrasnya. Masih kurang? Nih aku kasih lagi.Ayah bertubuh tinggi dan besar, sehingga selalu kuat bermain kuda-kudaan dengan Azka—adik Syifa. Warna kulit Ayah sama dengan Syifa, sawo matang. Rambut Ayah lurus dan wajahnya bulat seperti Syifa. Ayah bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Dan hal itu kerap membuat Ayah pergi ke luar kota, bahkan ke luar pulau. Sebenarnya Ayah penyayang binatang seperti Syifa. Namun karena binatang yang dipelihara sering berbuat ulah, Ayah menjadi tidak sabar dan kerap marah-marah.
(Tibu, Kucing Kesayangan Syifa-Amalia Dewi Fatimah dan Haya Nayla Zhafirah)
Wajah Pak Asya sangat mirip Alvan: tampan. Mereka punya hidung mancung yang sama, rambut indah yang sama, juga pembawaan tenang dan lembut. Meski baru kembali dari perjalanan jauh, Pak Asya tak tampak lelah. Justru ia kelihatan gembira sekali bisa bertemu anak tunggalnya.
(Kertas-Kertas Waktu-L Maurinta W).
Udah kebayang kan? Deskripsi di buku anak yang pertama, cenderung “membumi” dan “lokal”. Nggak salah sih, bagus malah. Kalau deskripsi di buku kedua, aka my books, cenderung lebih universal dan ada kata “tampan” di dalamnya. Itu yang aku highlight di sini.
Sorry to say ya, tapi menurutku buku anak di Indonesia membosankan dan mainstream. Mereka hanya berani main aman. Lah, kayak nama program di Oz Radio Bandung donk. Itu yang penyiarnya Fahmi Amoi dan Antoni Lovendio. Ok ok back to topic. Aku bilang penulis buku cerita anak Indonesia main aman. Mereka cenderung menghadirkan tokoh-tokoh yang seragam. Seragam di sini maksudnya adalah tokoh yang wajahnya biasa-biasa saja. Padahal di luar sana, ada juga kok anak Indonesia yang tampan/cantik, yang kulitnya cerah, atau matanya sipit, bahkan matanya biru sepertiku. Kalau deskripsinya lokal mulu, gimana anak bisa mengenal keberagaman? Dan pola seperti ini banyak banget aku temui di buku cerita anak yang kubaca. Memang bagus mengedepankan unsur kearifan lokal, aku pun menggabungkannya. Namun tak ada salahnya memperkenalkan konsep estetika pada anak. Toh anak-anak juga menyukai unsur estetika.
Kenapa ya, penulis dan penerbit buku anak Indonesia cenderung menghindari penyebutan tampan/cantik? Apa mereka takut nantinya tidak akan mendidik? Mungkin mereka khawatir anak-anak hanya akan terpaku pada unsur fisik. Enggak kok, anak-anak juga nggak kayak gitu liatnya. Mereka pasti akan memperhatikan jalan ceritanya juga. That’s why aku bilang buku anak di Indonesia itu membosankan dan mainstream.
Nyatanya, orang Indonesia itu kan beragam. Nggak semua anak Indonesia kulitnya sawo matang. Nggak semua anak Indonesia matanya hitam/cokelat. Tuh liat, bocil-bocil Papua. Beda kan, dari anak Indonesia di bagian barat? Perlu digali lagi sih karakterisasinya.
Aku jadi membayangkan andai Kertas-Kertas Waktu aku lepas ke pasar buku massal. Kaum mendang-mending, para ibu muda, dan anak-anak yang udah dicekoki deskripsi “membumi” bakal melipat dahi. Para ibu akan berpikir ketika sampai pada deskripsi Alvan dan Esvand Winatra. Mereka bakal bilang gini:
“Ini pangeran dari mana? Emang ada ya, keluarga kayak gini di perbatasan Bandung-Sumedang?”
Woi, ada yang namanya pembauran budaya! Atau saat para bu-ibu baca deskripsi Bu Olivia-Alvan’s mom-yang bermata biru.
“Mata biru? Kalau saya mah mata panda.”
Kocak sekaligus miris. Makanya itu, kubilang penulis buku cerita anak di Indonesia kurang berani keluar dari keseragaman. Sebenarnya ada beberapa lagi sih, unsur yang menggelitik buat dibahas. Tapi cukup sampai di sini dulu. Dan bagaimana nasib Kertas-Kertas Waktu? Tunggu di tulisan selanjutnya! Dadaaah!
