Topeng Kebahagiaan Kala

Seorang siswi tengah melakukan swafoto dengan teman-temannya, mencoba berbagai ekspresi wajah dengan senyuman yang terbentuk di setiap fotonya. Namanya Kala, siswi kelas XI yang gila media sosial. Tak pernah dirinya absen sehari saja untuk memposting setidaknya satu foto.

Jari-jarinya dengan cepat membuka aplikasi media sosial untuk memposting foto-foto yang baru saja diambilnya. Wajahnya masih tersenyum, cantik bak bunga lili. Kala masih tertawa ketika mengetikkan caption di lamannya. Foto-foto tersebut terpublikasi.

Tak sampai lima menit, wajah Kala sudah berubah. Bibirnya melengkung kebawah dan tangannya memegangi wajahnya. Menerima sebuah komentar dari sesama pengguna sosial media, “Jerawatnya keliatan.” Membuat kepercayaan diri Kala perlahan runtuh. Pundaknya menurun seperti pohon tua yang termakan usia.

Kala memang sedang terlihat seperti terkena serangan makhluk tak dikenal dengan beberapa jerawat yang tersebar di wajahnya. Kala seketika bermuram durja, wajahnya seakan menggelap seakan tak ada semangat yang membara.

“Kal, pelipismu kenapa?” tanya Feli teman sebangkunya ketika melihat sebuah lebam di kepala Kala.
“Oh, ini? Jatuh dari kasur,” jawab Kala berbohong. Tapi Feli menganggap itu masuk akal saja.

Sebenarnya Kala bukan jatuh dari kasur—mengapa ada remaja yang sudah mengenyam pendidikan hingga kelas XI tapi masih terjatuh dari kasur?—melainkan dipukuli ayahnya yang tengah mabuk semalam. Semalam, bagai kelelawar, Kala pulang terlambat. Sangat terlambat, jam malam Kala hanya sampai 7 malam, tetapi lupa waktu dan baru pulang saat jam menunjuk angka sembilan. Hal tersebut membuat murka sang ayah yang tengah mabuk dan mulai memukul.

Wajah Kala selalu cerah setiap berada di luar rumah, bagaikan topeng yang selalu ia pasang setiap menginjakkan teras rumahnya. Ayahnya pemabuk berat, sedangkan Ibunya yang biasanya membela Kala sudah tiada di tangan Ayahnya sendiri.

Di sekolah, Kala adalah siswi yang biasa-biasa saja, nilainya sering naik turun seperti siswa-siswi pada umumnya, tak begitu populer tapi tak begitu asing. Kala terkadang mendapatkan atensi ketika ia tengah tampil di lapangan menjadi anggota tim futsal sekolah. Tapi, bagaikan anala yang perlahan membakar, beberapa siswa-siswi di sekolahnya pun mulai merasakan sebuah kedengkian dan rasa iri.

Namanya Kala, baru kelas XI, tapi harus meratapi hidupnya yang berantakan.

Esok hari datang, matahari terbit dan Kala terduduk. Ia tak tidur. Kepalanya berat dan merasa bahwa dirinya dicekik oleh tekanan sosial, tekanan media sosial. Bertekad bahwa dirinya harus sempurna bagaimanapun caranya, hilangkan jerawat-jerawat di wajahnya, berharap wajahnya semakin cerah bagaikan indurasmi yang menerangi gelap malam. Berharap jerawat-jerawat yang berada di wajahnya di hari sebelumnya sudah hilang, Kala hanya memaki dirinya sendiri ketika melihat dirinya sendiri di cermin. Jerawat bertambah satu di dagunya.

Kala hanya terus memaki dirinya sendiri, di kamar mandi, ketika sedang mandi, membersihkan wajahnya berharap semua jerawat-jerawat itu hirap bak lemak yang diberi sabun cuci piring. Sabun cuci wajahnya menenangkan dirinya sedikit, aroma vanili yang keluar dari busa-busa sabun tersebut setidaknya membantu meredakan rasa kesalnya sedikit.

“Kala, gak apa-apa… Ini cuma jerawat, nanti juga akan hilang,” monolog Kala.

Di bus menuju sekolah, Kala membuka ponselnya, berbagai komentar diluncurkan pada postingan swafoto yang ia unggah kemarin. Beberapa memuji tentang parasnya tapi tak sedikit juga yang mengomentari jerawat-jerawat di wajah milik Kala. Kala hanya mendengus kesal, ia tak mau terus dikomentari.

Masuk ke gerbang sekolah, Kala baru teringat soal pekerjaan rumah yang seharusnya sudah ia kerjakan tiga hari lalu. Tindakan desersi yang ia lakukan kini di sini hanya memperkeruh keadaan. Jam kelas akan dimulai kurang dari setengah jam, sedangkan ia harus membuat esai. Tak mudah baginya untuk membuat esai dalam kurun waktu hanya kurang dari setengah jam.

Kala menunggu di kelas. Menunggu sang guru datang. Tak peduli ia terkena marah atau tidak, ia sudah terbebani dengan hal-hal yang ia harus lewati. Kala tetap menunggu sang guru untuk datang dan meminta pekerjaan rumahnya, meskipun Kala pun tahu Ayahnya akan murka dengan perbuatannya.

Benar saja, ketika sang guru datang, Kala berkata jujur bahwa ia belum mengerjakan pekerjaan rumahnya, sang guru kesal. Kala diberi tiga hari tapi tak digunakan dengan serius. Hanya membuat esai, kebanyakan siswa setidaknya sudah selesai mengerjakan di hari pertama.

Kala memaki dirinya sendiri, lagi. Teledor, lagi. Ini sudah kesekian kalinya ia melakukan keteledoran. Pertama ia lupa mempelajari materi ujian. Kedua, ia tak sengaja membuat kaca jendela sekolah pecah setelah melempar bola voli sembarangan, dan masih banyak keteledoran lainnya.

Saat makan siang, Kala hanya memposting foto makanan yang ia beli untuk makan siang. Tak ada wajahnya. Masih merasa tak nyaman untuk memposting wajahnya yang tengah dihuni jerawat.

Selama jam sekolah, Kala terus menunjukkan senyuman dan wajah gembiranya, ia sendiri sampai kebingungan dengan dirinya sendiri. Apakah ia benar-benar bahagia? Atau hanya sebatas formalitas supaya terlihat ramah?

Pulang sekolah, benar saja, ayah mabuk lagi. Wajahnya tak bisa dibaca, matanya sedikit bengkak, entah berapa kaleng sudah ia minum. Kala hanya menghela napasnya lelah, ia merasa ditekan dari segala arah.

Badannya terasa sakit ketika memasuki kamarnya, merasa ada ratusan bahkan ribuan panah ditembakkan pada dirinya dari segala arah. Menghadap cermin, menghitung jumlah ‘Kecacatan’ yang dimiliki. Ritual sebelum tidur yang hanya membuatnya bermimpi buruk tentang kehidupannya. Masa berkabung belum juga usai, ia benar-benar merasa ia dihantam dengan palu godam sebesar gedung.

“Kenapa, sih? Kenapa semuanya terus-terusan datang ke Kala? Kenapa gak teman-teman saja? Kenapa harus Kala?” keluh Kala lalu menjatuhkan diri ke kasur.

***

Hari ini hari sabtu, setiap sabtu Kala selalu dibolehkan untuk pergi kemanapun hingga jam 8 malam. Menginjakkan kaki ke dalam bus menuju pusat perbelanjaan, hendak membeli beberapa keperluan kulit kesayangannya. Membawa tabungannya yang ia kumpulkan selama dua minggu, beruntung ayahnya masih baik untuk memberinya uang jajan besar setiap hari, ia bisa menyisihkan sisanya.

Sampai di gedung pusat perbelanjaan, Kala langsung menuju sektor kosmetik dan keperluan skin-care. Mencari merek-merek yang sering ia gunakan, juga krim penghilang bekas jerawat. Suasana gedung tersebut cukup ramai, paling ramai berada di tempat bermain, tentu saja, semua siswa-siswi datang ke sana untuk sekedar menyegarkan diri. Sektor kosmetik saat ini terpantau tenang, tak terlalu ramai.

Kala mengambil sebuah sabun pembersih wajah, krim penghilang bekas jerawat, dan beberapa pelembab bibir. Membayar barang-barang tersebut di kasir dan masih menyisakan uang. Kala pun pergi ke pusat makanan di gedung tersebut, membeli beberapa makanan favorit yang jarang ia bisa dapatkan.

Tengah asyik memakan wafel coklat hangat yang baru saja dibeli, bahunya ditepuk oleh seseorang. Kala lantas membalikkan tubuhnya, menatap seseorang yang telah menepuk bahunya. Seorang perempuan, sama-sama memakai seragam sekolah, rambutnya sebahu, sebuah senyuman terpatri di wajahnya.

“Kala, kan?” ucap gadis tersebut ramah.
“Zara?” balas Kala senang.
Kala pun dengan senang akhirnya tersenyum lagi, “Udah, lama banget, kita gak ketemu. Gimana sekolah barumu? Ada yang beda, gak?” tanya Kala basa-basi.
“Lumayan, lah. Gurunya lebih suportif,” jawab Zara.

Kala menatap gadis itu lekat-lekat, memperhatikan cara berpakaiannya, juga menyadari bahwa Zara jauh terlihat lebih bahagia dari terakhir ia bertemu dengannya. Tiga bulan lalu, keluarga Zara tertimpa musibah yang merenggut nyawa ayahnya, kecelakaan mobil. Beruntungnya Zara saat itu tak mendapat cedera parah, hanya beberapa luka terbuka saja.

Kala ingat sekali betapa terpuruknya Zara saat itu. Ia sering menutup diri, menjadi lebih diam. Hanya meringkuk di bangku paling belakang, kepalanya ditutupi dengan tudung kepala jaketnya. Hingga sang Ibu memutuskan untuk memindahkan sekolah Zara ke sekolah yang setidaknya lebih bagus dari sekolah Kala. Zara terlihat lebih bahagia sekarang. Jujur, Kala merasa iri.

“Zar, kamu kelihatan happy banget, sekarang. Jadi iri,” ujar Kala sekenanya.
Zara hanya tertawa, “Kenapa? Kamu lagi ada masalah, ya?” tanya Zara.
“Cerita, Kal. Ke siapa aja, ke guru, ke temen, siapa aja! Tuangin tuh, semua yang ada di kepala. Jangan disimpen terus, berat,” jelas Zara.
“Kamu pikir, segampang itu buat seneng lagi? Enggak, Kal. Sampai sekarang juga aku masih sedih kalau ingat papa, tapi aku cerita. Aku tau kok, Kal, senyuman yang ada di mukamu sekarang, cuma pajangan doang, ‘kan?” jelas Zara membuat Kala terdiam.
Kala menghela napasnya, “Yah, gimana ya? Gak ada orang yang bisa aku ajak cerita.”

Zara mengusap bahu Kala, menarik Kala ke bagian restoran dan menyuruhnya duduk. Wajah Zara terang, seakan tak ada beban. Kala hanya menatapnya bingung, tak tahu untuk apa dia ditarik kemari.

“Cerita, sekarang. Ke aku. Buka topengnya, jangan dipakai kalau lagi sama aku,” ujar Zara.
“Topeng? Aku gak pakai topeng apa-apa, Zar,” balas Kala bingung.
“Ah, kamu ini. Gak tau kata kiasan. Maksudnya tuh, jangan pura-pura baik-baik aja di depan aku. Aku tau kamu lagi ada masalah. Ayo, aku dengerin kamu cerita.” Zara melipat tangannya di meja. Siap mendengarkan semua pikiran Kala.

Kala mengawali kalimatnya dengan helaan napas, dan mulai bercerita pada Zara. Mengeluarkan semua pikiran yang membuat kepalanya terasa berat, mengeluarkan semua kata-kata yang ingin ia ucapkan sedari kemarin. Rasanya cekikan dari hari-hari sebelumnya mulai menghilang, topeng yang ia gunakan mulai retak kala bercerita.

“Kira-kira gimana, ya? Caranya biar bisa happy lagi?” tanya Kala sebagai kalimat terakhir ceritanya.
“Menurut aku, kamu harus belajar menerima diri sendiri. Lepasin ekspektasi-ekspektasimu buat sementara aja. Kalau aku kemarin, aku gak bisa nerima diriku sendiri karena ini, bekas lukanya kelihatan jelas banget. Salah satunya, berhenti nyari validasi orang lain, karena kalau cuma nyari validasi tanpa mau denger kritik itu cuma bikin capek,” jelas Zara.

Kala mengangguk pelan, mencerna semua yang Zara katakan. Benar juga. Selama ini Kala hanya memaki dirinya sendiri karena tak bisa memenuhi ekspektasi terhadap diri sendiri, memaki dirinya sendiri ketika berbuat kesalahan. Bukan berusaha untuk memperbaiki apa yang rusak, tapi malah semakin merusaknya.

Esok hari datang, Kala datang ke sekolah dengan senyuman seadanya. Beberapa kawannya pun menanyakan apa yang terjadi karena senyumannya tak secerah kemarin. Kala pun akhirnya membuka mulut, menceritakan tentang apa yang ia rasakan selama ini, dan di luar ekspektasinya, kawan-kawannya pun setuju dan merasakan hal yang sama. Mereka mulai saling hibur satu sama lain. Kala kini mengerti, yang membuat dirinya selalu lelah adalah senyuman palsu yang ia selalu tunjukkan di wajahnya.

Topeng yang selalu digunakkan Kala kini sudah pecah. Lepas dari wajah Kala. Topeng kebahagiaan miliknya kini sudah tak terpasang dan Kala merasa bebas untuk menjadi dirinya sendiri.

Kala belajar bahwa pujian orang lain mungkin membawa kebahagiaan, tapi kebahagiaan sejati datang dari menerima diri sendiri dan berbagi perasaan pada orang lain. Kala tak lagi membutuhkan topeng kebahagiaannya untuk menyembunyikan kesedihan. Senyumannya jauh lebih tulus dan bermakna sekarang.

————

Cerita ini sudah dipublikasikan sebagai web drama di Spotify dengan durasi yang lebih panjang; https://bit.ly/3ZeBcIF

-Aylorell

One comment

  1. Kala ini strong banget sebenernya: kehilangan ibu, dinyinyirin netizen, dll. Tapi nggak bisa selamanya pakai topeng ya. Perlu jujur sama perasaan sendiri. Nice story, Aghny. Thanks for sharing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *