Tahun Baru, Ruang Baru, Hari Minggu

Selamat Tahun Baru, sobat menulis. Semoga tahun 2026 ini membawa banyak kebaikan dan kesuksesan untuk kita semua. Hari kedua di tahun 2026 ini, aku udah mulai sibuk lagi. Si introvert ini sudah kembali duduk manis di depan layar. Speaking of introvert, kebetulan bat kalau tanggal 2 Januari ini diperingati sebagai Hari Introvert. Wooo, semua introvert dirayakan.

Tadi aku mention “ruang baru” di judulnya. Yups betul, Sekolah Menulis Cantik (SMC) punya ruang baru, tepatnya website. Biasanya kami hanya main-main cantik di Instagram (@sekolahmenulis.cc, sekalian promote tipis-tipis). Tapi di tahun yang baru ini, kami punya ruang baru. Eh kayak lagunya Barsena nggak sih? Yang buat soundtrack film itu. Pokoknya itulah. So, aku mau berterima kasih pada PT KAP Synergy untuk dukungan/apresiasi websitenya.

Nah, siapakah si introvert ini? Gas kita kenalan lagi. Biar sayang, kalo udah sayang pegang yang kencang biar nggak terbang. Aku Maurin, founder Sekolah Menulis Cantik. Dulu, salah satu stafku di batch 1 pernah menyebutku “founder cantik”. Jadilah itu salah satu panggilanku sekarang. Aku ini … lucu cek, kutu buku cek, sayang ortu, cek. Ok ok udah, segmen musik ada sendiri kok ntar, karena aku memang suka main musik. Keyboard/piano tepatnya.

Sebagai founder platform kepenulisan, tentunya aku nulis juga donk. Aku menulis beberapa buku. Total buku yang sudah kutulis dan kurilis ada 18. Yeeeay, tepuk tangan buat founder cantik. Beberapa buku terbit di penerbit mayor, beberapa lagi terbit di penerbit indie. Ada yang udah tahu bedanya penerbit mayor dan indie? Kalo ada yang tau, angkat jempol kaki tinggi-tinggi. Kalau belum tahu, kita bahas di tulisan tersendiri.

Allright, di sini aku pengen bahas bukuku yang rencananya bakal terbit di awal tahun ini. Apa tuh judulnyaaa? Hari Minggu Pukul Sembilan. Biar efisien, karena in this economy semuanya butuh efisiensi, kita singkat aja ya, jadi HMPS. HMPS ini nyeritain tentang seorang pria bernama Jun yang didiagnosis pasien akhir hayat oleh ayahnya sendiri, Dokter Austin. Beberapa waktu Jun habiskan di hospice carre-sebuah tempat perawatan pliatif bagi pasien terminal/stadium akhir. Walau pasien, Jun atau Arjuna Thomas ini malah bantu pasien lainnya. Istilahnya pasien bantu pasien. Mirip-miriplah sama saudara-saudara kita di Aceh sana yang justru bantu sesama korban banjir lainnya. Korban bantu korban. Pasien bantu pasien.

Suatu ketika, Oma Barbara meminta Jun pulang. Kenapa? Karena Oma Barbara pengen mengaplikasikan teori peaceful end of life. Teori apa itu, founder cantik? Selengkapnya bisa kalian baca di bukuku. Aku riset agak panjang dan “deep” soal ini. Pulang-pulang dari hospice care, Jun ini malah mengadopsi Terry, bocah tampan bermata biru yang ditemuinya di permakaman. Kira-kira begitu sekilas cerita tentang “Hari Minggu Pukul Sembilan”.

Aku ingin membagi fakta demi fakta tentang HMPS. Namun akan kulakukan bertahap, minggu demi minggu. Soalnya energi founder cantik cepat ambyar kalau nulis panjang-panjang. Segitu dulu potongan cerita untuk minggu ini. Kita ketemu minggu depan. Jika tidak minggu ini, mungkin bulan depan. Ups, nyanyi lagi. Udah dulu ah, bye.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *