Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 7]

mie dan perbincangan sekali duduk

Tak terasa lebaran tinggal menghitung hari. Aku melihat Ibu terlihat senang dengan beberapa parsel jajan yang kubawa dari tempat kerja, hari ini beliau tidak lagi memasak karena ia mengeluh jika badannya kembali tidak enak. Tentunya aku merasa tak keberatan, kami berbincang sambil menata beberapa toples berisi jelly, kacang goreng yang beli dipasar (kali ini aku agak sedikit bangga karena ini hasil dari gorengan ku sendiri, biasanya Ibu tidak memperbolehkanku menggoreng kecuali beliau sendiri).

Aku menggambil beberapa toples yang kosong dan mengisinya dengan beberapa keripik, mengisi secara penuh. Lalu menyiapkan beberapa rak gelas minum yang nanti akan disuguhkan saat lebaran. Meski rumah ini jauh dari sanak saudara, termasuk adik-adik dari Ibu yang berada diluar Jawa Timur setidaknya ada saudara Bapak, tentangga dan beberapa saudara dari nenek yang masih sering berkunjung meski terhitung satu tahun sekali.

Setelah sesi bersih-bersih selesai, aku beralih duduk sebentar dengan Ibu. Kami mengobrol sebentar, Ibu berpesan untuk menyuruhku menata kamar karena kedua Masku akan pulang bersamaan dengan istrinya dan tentu aku menyambut dengan senang karena rumah kami kembali ramai setelah beberapa hari ini sepi.

Mengerjakan pekerjaan rumah ternyata tidak terbayangkan jika semelelahkan itu, karena aku awalnya berpikir hanya bersih-bersih semata. Tapi, diluar dugaan itu melelahkan jika dikerjaan sendirian seperti hari ini. Jadi, dari siang sampai sore mungkin sekitar pukul 4 sore aku baru bangun dan mendapati Ibu yang meringkuk dikasur kamarnya.

Kata Bapak beliau mengeluh perutnya kembung, dan tidak bisa buang air besar. Tetapi setelah habis magrib aku melanjutkan untuk memasang taplak dan menata kue lebaran yang akan disajikan besok. Sambil ditemani Ibu diruang tengah, setelah mendapat obat dari Bapak beliau bolak balik ke kamar mandi.

“Adem bu?” (dingin bu?) kutanya beliau.

Beliau mengangguk.

“Pakai topi bromo, mau?” (topi bromo, sebutan topi rajut yang memang waktu itu Bapak membeli waktu kita sedang liburan bersama ke Bromo, melihat Ibu menggigil tidak karuan Bapak memutuskan untuk membeli beberapa pasang untuk Ibu kenakan).

Aku beralih mengambilnya dan memasangkan topi Ibu pada surainya yang sedikit berantakan. Kuperhatikan dengan seksama, Ibu tampak lemas.

Aku memang biasa melihat wajah Ibu yang seringkali lelah karena mengerjakan pekerjaan rumah, atau seringkali melihat Ibu yang terkadang terserang demam dan semacamnya. Tapi kali ini rasa lelah yang kiranya cukup berkali-kali lipat ditahannya. Karena setiap kutanya Ibu selalu menggeleng.

Hal ini mengingatkan ku waktu duduk dikelas 12 SMA, aku mendengar kabar ketika jam pelajaran terakhir baru mulai. Bapak bilang Ibu enggak sadarkan diri, jadi dilarikan dekat rumah sakit SMA ku. Tetapi aku kesal saat itu Bapak tidak mengatakannya saat posisi mereka disana, tetapi saat pindah kerumah sakit yang lain karena pihak rumah sakit menyarankan untuk dibawa ke lain tempat jadi aku menggerutu.

“Awakmu mrene nek Ibu wes mlebu kamar ae, sakiki jek nang UGD” (Kamu kesini kalau Ibu sudah masuk kamar aja, sekarang masih di UGD).

“Mariki aku mari, aku runu. Nanti Bapak tunggu aku di depan.” (Habis ini aku selesai, aku kesitu. Nanti Bapak tunggu aku di depan).

Bapak mengiyakan, aku bercerita kepada beberapa temanku kalau Ibu masuk rumah sakit. Aku harap mereka ikut serta mendoakannya agar Ibu lekas pulih. Sesampainya disana, Bapak menyusul kemudian aku bergantian menemani Ibu. Bapak meninggalkan kami berdua, katanya ia mau merokok sebentar.

Melihat Ibu yang sudah dipasang Infus serta alat bantu oksigen, aku menangis. Mungkin itu kali pertama aku tidak sungkan menangis di depan Ibu, karena aku tak kuasa menahannya. Itu berlangsung beberapa menit dan aku tak mengucapkan apa-apa.

Hanya menangis, dan menangis.

Hal itu membuat Ibu turut serta menitikkan air mata.

to be continued

One comment

  1. Wah Ratih, aku baru notice. Latar waktu di cerita kamu ini relate sama yang sekarang kita jalani: bulan puasa, menjelang hari raya juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *