Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 6]

mie dan perbincangan sekali duduk

“Kamu sama siapa sih?”

“Temen SMA yang mana? Ibu kenal?”

“Mending enggak usah pergi aja, dirumah aja ngapain sih keluar apalagi jam segini.” Aku yang masih berkutat merapikan barang-barang dan bergegas untuk pergi.

“Iyakan nunggu dia buka puasa bu, tenang aman sebelum jam 9 aku usahain udah dirumah. Ibu mau nitip apa?”

“Roti kaya biasanya ya.”

“Awas aja pulang malam!”

Aku mengiyakan kemudian berpamitan.

Melihat Mas Zahim sudah berada di depan rumah aku bergegas, untuk segera menghampirinya. Cukup lama kiranya kita tidak bertemu, dan hari ini kami memutuskan untuk kembali bertemu dan bertukar cerita selama di perjalanan maupun sesampainya di tempat yang kami akan tuju.

“Mas tumben hari ini gapake baju yang kemarin?”

“Katanya kelihatan enggak rapi.”

Aku mengangguk mengiyakan, kami bertukar cerita banyak hal. Mas Zahim mendengarkan dengan seksama ketika aku bercerita, sesekali matanya berpencar menyimak keadaan luar tetapi ia sangat responsive terhadap perkataanku dan menanggapi dengan baik. Aku suka ketika ia melontarkan pertanyaan, ataupun pernyataan yang seringkali membuatku antusias untuk menjawabnya. Begitu pula dengan aku yang suka mendengarnya bercerita seputar apa saja.

Iya memang, kalau sudah saling suka manusia akan menjadi lebih bersemangat dan menyukai hal-hal kecil yang orang kita sukai.

Mulai dari memperhatikan raut wajahnya, bibirnya, dan kedua manik mata yang seringkali menatap intens kapan dan dimana saja saat kita berdua sedang melakukan apapun itu.

“Mau mampir kemana?”

“Beli roti mas, tadi Ibu nitip.”

“Oke siap, mau mampir kemana dulu enggak?”

“Gatau, terserah mas aja pokoknya jangan pulang dulu. Masih kangen hehehe”

Mas Zahim mengacak tipis rambutku, kemudian kami berdua beralih menuju ke tempat lainnya.

to be continued

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *