![Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 5] mie dan perbincangan sekali duduk](https://sekolahmenuliscantik.id/wp-content/uploads/2026/02/Mie-dan-Perbincangan-Sekali-Duduk-2-819x1024.png)
“Bu, nanti sore aku mau ikut Bapak ya? Katanya mau beli yang buat di aquarium itu,”
“Enggak, biar Ibu aja yang berangkat.”
Ketika Ibu menuntaskan untuk menemani Bapak pergi yasudah tak apa, mungkin beliau juga butuh suasana baru karena aku merasa semenjak dirumah tidak ada siapa-siapa beliau juga jarang keluar rumah sekadar jalan-jalan ataupun mencari udara segar. Keluar hanya sebatas berinteraksi dengan tetangga dan membeli beberapa bahan yang digunakan untuk memasak nantinya. Aku cukup lega karena Ibu menjelang lebaran tidak kembali sakit, beberapa hari sejak kejadian kemarin yang agak mengejutkan membuat sedikit khawatir tapi lambat laun melihat Ibu yang semakin membaik aku yakin bahwa Ibu juga pasti lekas membaik.
Karena hari ini tidak banyak pekerjaan yang kulakukan, aku memilih untuk menyelesaikan beberapa hobi yang belum ku tuntaskan selama berhari-hari. Karena pekerjaan yang cukup membuatku kesal, lebih tepatnya kesal dengan omelan Bapak yang berputar layaknya bianglala dalam benak, yang diungkit-ungkit perihal itu-itu saja.
“Kamu itu kalau punya pekerjaan yang teliti, liat temen Bapak dia telaten jadi ga perlu cepat selesai yang penting teliti dan ga buru-buru.”
“Apalagi itu menyangkut data orang lain, bisa-bisa kamu diamuk sama pemilik data yang bersangkutan”
Mendengarnya aku hanya mengiyakan. Tapi, disisi lain aku memang mengakui jika aku salah karena aku terbiasa terburu-buru soal apapun (kecuali melakukan hobiku sendiri).
Tidak hanya itu saja, selain Bapak suka membeda-bedakan perlakuanku dengan orang lain beliau juga selalu mengomentari soal pekerjaanku yang terkadang kubiarkan terbengkalai selama beberapa hari, padahal dengan deadline yang bisa dibilang cukup dekat. Tapi, aku sendiri kesal dengan atasan atau rekan kerja yang lain mereka selalu memberikan hal yang terkadang tidak masuk akal, harus selesai jam sekian ditunggu secepatnya!
Sungguh jengah dan malas mendengarnya, andai saja mencari pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan mungkin aku memilih lari dari pekerjaan yang saat ini.
Tapi, jujur itu tidak mudah.
“Kalau punya pekerjaan mending langsung dikerjain, sat set.” “
Kalau perlu sampe sore gapapa, nanti Bapak jemput.”
to be continued
