Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 1]

mie dan perbincangan sekali duduk

“Nanti buka puasa pake apa bu?” kutanya beliau.

Ibu masih berkutat dengan ponsel yang digunakannya sementara aku memperhatikan dari luar kamarnya. Puasa di tahun ini Allah memberikan kesempatan kami untuk ikut serta menikmati momen yang senantiasa ditunggu oleh umat Muslim.

“Iya biasanya kamu makan apa.”

Aku hanya mengiyakan, akhir-akhir ini ibu jarang masak. Sebenarnya aku juga tak terlalu mempermasalahkan karena aku dan nenek seringkali menyiapkan sahur, serta makanan untuk buka puasa nanti. Karena aku menyadari dengan seksama bahwa Kesehatan ibu akhir-akhir ini menurun.

Kecapean, pikirku.

Lantas, aku pergi berpamitan pada Ibu untuk bergegas berangkat bekerja bersama Bapak. Oh iya, sebelum beberapa bab cerita ini berlanjut izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Marsi usiaku menginjak 23 tahun, hari-hariku dipenuhi dengan mengurus satu anak bayi kucing Bernama Megu. Kerjanya hanya makan, tidur, merusak barang-barang dirumah. Hal ini yang menyebabkan aku dan Ibuku seringkali beradu mulut karena Megu pipis sembarangan ataupun buang kotoran sesukanya dan tak jarang naik ke tempat tidur Ibuku. Padahal Megu adalah hal yang paling menggemaskan. Kesibukan lain yang kujalani saat ini adalah memperbanyak kegiatan untuk menambah portofolioku yang benar-benar membosankan dan kosong, meski sudah mendapatkan pekerjaan sebagai Guru Honorer tapi gajinya benar-benar tidak mencukupi meski hanya menghidupi seorang diri. Karena aku menyisihkan Sebagian kecil untuk Ibu meski tidak banyak yang kuberi itu merupakan kebanggan tersendiri atas pencapaianku.

“Pokoknya aku gamau jadi Guru Buk, terserah ibu mau bilang apa.”

“Iyawes karepmu ae, Ibu ga ngurus pokoknya Ibu mau nanti ada salah satu anak yang jadi pegawai.”

“Karena mas-mas mu sudah ndak mau jadi mau gamau kamu harus mau.”

Percakapan yang seringkali ku tegaskan sama Ibu kalau aku benar-benar tidak mau. Tapi, nyatanya sekarang aku menjalaninya bahkan sudah berjalan hampir 3 tahun. Bertemu dengan anak-anak yang menurutku kadang menjengkelkan, karena aku sadar kesabaranku hanya setipis tisu dibagi dengan banyak bagian. Belum lagi menghadapi wali murid ataupun teman rekan kerja yang kadang tak mengenakkan.

Aku tau semua tempat kerja tentunya mempunyai banyak tekanan sendiri, bukan berarti aku memilih yang mau enaknya saja. Tapi, memang nyatanya demikian. Kadang kalau capek, perlu kuatnya untuk mengontrol diri karena menghadapi anak seusia mereka sungguh penuh kesabaran. Aku salut dengan guru-guru muda, atau dikalangan usia senja. Masih bertahan dengan sabar, dan memberikan inovasi dalam mengajarkan sesuatu. Menyiapkan, menyambut pembelajaran dengan penuh semangat dan energik. Berbeda dengan aku yang masih kikuk, dan garing dalam membawa suasana.

“Kamu nek ngajar kok gitu, sering-sering belajar sana nonton youtube.”

Masih ku ingat juga perkataan Ibu waktu melihat video praktik mengajarku yang amat sangat amatir, Ibu melihatnya saja geli apalagi aku yang membutuhkan waktu berkutat memutar beberapa kali untuk menghasilkan editan yang cukup menarik meski isinya sama sekali membuat perut mual dan cukup memalukan.

Aku berharap mempunyai rasa semangat yang sama, sama seperti mereka. Tapi, aku masih tidak tahu juga bagaimana aku bisa menumbuhkan rasa itu?

“Ayo lama banget katanya buru-buru,” seru Bapak dari luar pagar.

“Iya sabar masih pakai Sepatu.”

“Makannya kalau malem jangan suka telfon’an sama pacarmu, alhasil kesiangan terus.” “

Aku gapunya pacar bu.”

“Udah aku berangkat dulu, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Selalu saja Ibu menggerutu soal apa saja, tapi tak apa rumah kami jadi berwarna karena ada omelan Ibu yang hampir setiap hari menceramahiku. Tak hanya soal pekerjaan, tapi soal barang berceceran atapun menaruh barang yang tidak pada tempatnya.

Tempat kerjaku tak terlalu jauh dari rumah, mungkin menempuh waktu kurang dari 15 menit sudah sampai. Setiap hari Bapak enggak ada kata capeknya untuk mengantar, karena ya memang aku gabisa naik motor.

“Kalau diajarin tuh suka kaku, orang waktunya belok malah gabisa.”

Begitu kiranya jawaban Bapak kalau bercerita dengan teman-temannya yang seringkali bertanya kenapa masih diantar. Aku yang menjadi pendengar hanya diam sambil sesekali tersenyum, karena terlalu bingung hendak mengatakan apa.

“Haloo Miss Marsi.”

“Miss salim, mau salim.”

“Miss aku miss.”

Baru saja sampai beberapa belasan anak-anak dari kelas satu berkumpul untuk datang meminta bersalaman. Aku agak sedikit kesulitan mengimbangi diri karena beberapa mereka bergelayut memegang badanku seraya menceritakan hal yang baru saja mereka lakukan. Hal ini berlangsung seterusnya, aku baru datang – mereka menyambut dengan senang hati – membuat moodku agak membaik, tapi disisi lain kadang aku tidak terlalu bisa mengimbangi energi yang mereka miliki.

“Gausah rebutan, pelan-pelan aja.”

Satu persatu berhamburan pergi, aku agak bernapas lega dibuatnya. Akhirnya, padahal masih pagi.

to be continued

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *