Pagi itu, Fadiah bersiap untuk pergi ke sekolah barunya, dengan kecerdasannya ia berhasil lolos untuk melanjutkan ke SMK yang ia impikan selama ini, yaitu SMK Budi Bahasa dimana SMK tersebut adalah SMK favorit di kota Banjar, Jawa Barat, SMK yang dikenal dengan siswanya yang cerdas, cantik, dan dipastikan menjadi lulusan 4 bahasa yaitu Indonesia, Inggris, Jepang, dan Korea. Karena rumah fadiah ada di pinggiran desa, waktu untuk menempuh sekolahnya kurang lebih satu jam, ia pun harus antri angkot buntut di jalan raya provinsi terlebih dahulu, belum lagi Fadiah harus berdesakan dengan para pedagang yang akan berjualan di pasar setiap pagi di hari Senin hingga Jum’at.
“Fadiah ayo bangun!” Suara lembut bu Murni di kamar Fadiah, ibu Fadiah.
“Sudah Jam 4 nak, ayo bangun, kita shalat dulu sama bapak.” Ajakan bu Murni kepada anak semata wayangnya.
Seusai shalat subuh tersebut bu Murni bergegas ke dapur untuk menyajikan sarapan. Sedangkan Fadiah bergegas bersiap untuk pergi ke sekolah.
“Hari ini hari pertama kamu ke SMK Budi Bahasa kan?” Tanya pak Dedi, bapak Fadiah.
“Iya Pak.” Jawaban Fadiah lesu tidak bersemangat.
“Yang semangat dong. Hari ini adalah hari pertama kamu di sekolah impian kamu itu.” Saut bu Murni sambil menepuk pundak Fadiah.
Fadiah hanya bisa menjawabnya dengan senyuman, sambil berkata di dalam hatinya “Apakah aku bisa menuntaskan sekolahku nanti dengan paras mukaku seperti ini Pak, Bu.”
Waktu menunjukkan hampir pukul 6 pagi. Fadiah diantar oleh sang bapak tercinta menuju angkot yang kini akan menjadi langganannya untuk berbekal ilmu.
Hampir kurang lebih satu jam, akhirnya Fadiah sampai di sekolah barunya itu. Sesampainya di depan pintu sekolah ia merasa bahagia, terharu, dan sedih yang bercampuran, hingga Fadiah menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu gerbang masuk.
“Neng, jangan bengong disini. Masuk atuh, kebutuh telat nanti. Hari ini Senin, waktunya kalian upacara.” Ujar salah seorang Satpam di SMK Budi Bahasa.
“Oh iya Pak, maaf ya.” Jawab Fadiah terkejut dan langsung lari menuju ke pencarian kelas.
Ternyata Fadiah ada di kelas XB, dimana seluruh siswa kelas X belum diarahkan ke penjuruan mereka masing-masing, tetapi masih dibekali pelajaran 4 bahasa tadi. Fadiah pun satu kelas dengan anak akuntansi, tata boga, dan multimedia. Fadiah tidak kenal satu orang pun di kelas itu, dan seperti biasa Fadiah selalu duduk di kursi paling depan untuk memudahkannya memahami materi yang akan disampaikan oleh gurunya nanti. Tiba-tiba ada satu anak perempuan dengan muka cantik dan penampilan yang sangat elegan terpaksa duduk satu meja dengan Fadiah karena memang tidak ada kursi kosong lagi, sebut namnya Caramel.
“Huft dapat kursi depan lagi.” Gerutu Caramel ketika duduk di kursi samping Fadiah.
Melihat cover Caramel yang begitu jauh dari Fadiah, mulai timbulah rasa bimbang pada Fadiah. “Perempuan ini terlihat sangat sempurna dibandingkan aku.” Ujarnya di dalam hati.
Tepat pukul 7 pagi semua diwajibkan untuk menuju ke lapangan upacara, akan ada sambutan selamat datang kepada siswa baru oleh bapak kepala sekolah. Selesainya kegiatan itu, semua siswa kembali ke kelas mereka masing-masing. Fadiah pun kebingungan untuk kembali menuju ke kelasnya, karena memang SMK Budi Bahasa sangat luas sekali.
“Aku harus ke arah yang mana ini? Sini atau sini ya tadi?” Tanya lirih Fadiah melihat jalan bercabang.
Tidak lama kemudian, dari belakang Fadiah ternyata ada Caramel dan satu gengnya.
“Minggir dong!” Ucap Caramel sambil menabrak pundak Fadiah.
“Aduhhhh.” Fadiah pun sampai hampir terjatuh karena kerasnya benturan pundak Caramel ke pundaknya.
“Berdiri di tengah jalan.” Sahut teman Caramel.
“Bingung ya cari jalan kembali ke kelas? Hahaha…” Sahut teman Caramel telat di muka Fadiah.
“Muka kayak gini bisa juga ya ternyata masuk di SMK Budi Bahasa.” Hinaan salah satu teman Caramel ke Fadiah pagi itu.
Tanpa berpikir panjang dan menghiraukan semua hinaan mereka. Fadiah dengan keyakinannya kembali ke kelas dengan jalan yang ia yakini meskipun harus berputar hingga beberapa kali untuk bisa sampai di kelasnya. Sesampainya di kelas nampak Caramel sudah duduk di bangkunya, diam sambil membaca buku nampak seperti buku novel. Tapi dilihat di sekelilingnya, tidak ada muka satu pun perempuan yang bersama Caramel menghina Fadiah tadi. Dari situ, Fadiah menyimpulkan bahwa Caramel memiliki teman tetapi berbeda kelas dengannya.
Beberapa menit setelah Fadiah duduk di bangkunya, ada salah seorang bu Guru yang masuk ke ruangan kelasnya dengan membawa beberapa buku.
“Anak-anak selamat pagi semuanya. Sebelumnya saya ucapkan selamat kalian semua sudah diterima di SMK ini. Dimana banyak sekali siswa-siswi di luaran sana yang ingin bersekolah di sekolah kalian ini.” Ucap bu Tutik selaku wali kelas XB kala itu.
Seperti biasa hari pertama menjadi siswa baru di SMK Budi Bahasa harus langsung ke penyampaian materi pembelajaran, jarang sekali ada jam kosong di sekolah ini. Bu Tutik langsung saja membagikan beberapa modul bahasa Indonesia kepada masing-masing siswanya.
“Karena semua sudah berpegang ke modul kalian masing-masing. Kita langsung belajar bersama-sama mendalami apa itu Bahasa Indonesia ya.” Kalimat pembuka pembelajaran materi Bahasa Indonesia pagi itu oleh bu Tutik.
Kurang lebih dua jam bu Tutik menyampaikan materi Bahasa Indonesia, bel istirahat pun berbunyi. “Kring…..”
Semua siswa mulai berbondong keluar kelas masing-masing menuju ke kantin sekolah. Tapi tidak dengan Fadiah, dia hanya duduk terdiam di kelas sambil membuka bekal masakan ibunya. Melihat hanya Fadiah seorang yang tidak keluar kelas, bu Tutik pun bertanya “Fadiah kamu tidak ke kantin?”
“Tidak bu, hari ini aku dimasakin bekal sama ibu.” Jawab Fadiah dengan tersenyum.
Bu Tutik mengetahui tampang Fadiah yang terlihat sangat kekurangan, mulai Fisik hingga ke tas dan sepatunya.
“Fadiah, apakah kamu sudah punya teman, atau kenal dengan salah satu mungkin malah beberapa teman baru kamu di kelas ini?” Tanya bu Tutik kepada Fadiah yang menikmati makanannya.
“Oh itu saya belum kenal Bu. Saya tidak biasa ramah ke teman-teman saya terlebih dahulu karena saya sadar betul dengan fisik dan cover saya. Sejak SMP saya sudah biasa sendiri di sekolah tanpa teman.” Jawab Fadiah dengan lantang tanpa memperlihatkan kesedihannya.
Mendengar jawaban Fadiah bu Tutik terharu, sedih, dan kagum ternyata siswanya ada yang sekuat ini mentalnya.
“Kamu hebat Fadiah, sebelumnya belum ada murid ibu yang sekuat kamu dan seberani kamu. Kamu harus bisa membuktikan ke sekolah ini kalau kamu layak menjadi yang terbaik. Kamu harus rajin belajar dan rajin masuk sekolah ya Fadiah.” Ucap kalimat penyemangat bu Tutik kepada Fadiah.
“Iya Bu Tutik, itu pasti.” Jawab Fadiah dengan tersenyum.
Setelah 20 menit lamanya jam istirahat berlalu. Akhirnya jam masuk kemlas kembali dibunyikan, semua siswa diharapkan kembali ke kelas dan melanjutkan pembelajaran mereka masing-masing. Tepat pukul 15.00 WIT, akhirnya jam kepulangan dibunyikan. Siswa berbondong-bondong untuk keluar menuju pintu gerbang, begitu pun dengan Fadiah yang harus segera keluar gerbang untuk mendapatkan angkot, karena sedikit sekali angkot yang mau berpangkal di SMK Budi Bahasa sebab sebagian besar siswanya sudah berkendara motor sendiri atau dijemput oleh sopir pribadi mereka.

Waaah…asik. Part pertama udah tayang di siniii. Menikmati cerita ini lagi setelah sekitar setengah tahun. Thank youuu, Adin.
Thank you juga kak, enjoy this story ya