Ketika Kamu Pergi untuk Selamanya
“Aku berangkat!” pamit Vionna dari kejauhan kepada orang tuanya seraya melambaikan tangannya ke atas beberapa kali.
“Iya, Nak! Hati-hati!”
Dalam perjalanan, Vionna merasa sedikit gelisah, mengingat hari ini adalah hari pertamanya setelah diterima di sebuah universitas di kotanya yang mana menggeser sisa masa-masa SMA nya. Baginya, ini cenderung lebih ketat, terbukti jika ia harus mencari kos-kosan supaya nanti saat masa orientasi calon mahasiswa baru bisa berteduh dan tidak bolak-balik ke rumahnya yang notabenenya sangat jauh itu.
Lanjut, di satu setengah jam membelah jalan, Vionna lantas menepuk pelan bahu bapak ojek yang ditumpanginya agar menghentikan laju motornya.
“Kok langit agak mendung gini ya, Pak?”
“Aduh, Neng, mana bensin saya habis lagi.”
“Apa mau saya antar ke tempat yang jual bensin? Gakpapa kok, Pak, tinggal beberapa langkah lagi kita ke gang kosan itu.”
“Tak usah, Neng, saya sendiri saja. Kita berteduh dulu, ya.”
“Oh, baik, Pak.”
Lama Vionna cuma diam di kursi, ia pun lantas seperti diperlihatkan seorang gadis yang sepertinya seumuran dengannya. Gadis itu juga seperti sedang menunggu seseorang tapi entah siapa.
“Permisi, maaf, sedang menunggu ya?”
“Ya, benar,” balas gadis itu sambil tersenyum simpul.
Suasana dingin dan kabut yang semakin tebal membuat sekeliling di sana menjadi agak petang, padahal masih pagi. Beberapa kendaraan yang seharusnya berseliweran pun nampak sepi karena hujan besar seperti akan mengguyur beberapa saat lagi. Perlahan, karena Vionna ini agak berani ia pun kembali basa-basi sama orang yang di sebelahnya itu.
“Apa kamu calon mahasiswa di Universitas Axel?”
“Iya, kamu juga ya? Kebetulan aku lagi mencari kos-kosan yang dekat dengan sini.”
“Wahh, barengan aja! Aku sudah dapat alamatnya sih.”
“Beneran? Kalau iya aku mau bilang papa aku dulu, ya!” balas gadis itu sembari menghubungi seseorang melewati hp nya.
“Ya, silakan,” angguk Vionna cepat kemudian beralih kepalanya menengadah ke atas menatap pinggiran atap seng yang menaunginya dengan tetesan air hujan yang melambat.
“Oke, ayo kita jalan. Aku bawa payung kok.”
“Maaf sebelumnya, nama kamu siapa?”
“Aku Eva.”
“Oh … Eva. Aku Vionna. Oke, kita jalan saja. Pak, boleh pulang ya, terima kasih. Aku mau jalan saja sama Eva.”
“Iya, Neng.”
“Baik. Ayo, Va.”
Mereka berdua lantas menyusuri jalan menuju gang-gang kecil dan mencari lokasi kos-kosan itu. Karena baru saja hujan, tanah di sana juga agak basah dan membuat sepatu mereka kotor terkena tanah yang becek. Satu hal, Vionna sebenarnya merasakan sesuatu yang agak aneh di tubuhnya, seperti bulu kuduknya yang berdiri dan napas yang sesak entah kenapa.
“Vio, kamu gakppa, kan?” tanya Eva memastikan.
“Gakpapa, kok. Aku hanya capek saja mungkin.”
“Kalau di maps itu ini, Vio. Benar gak sih?”
“Ya, benar. Tapi … ini beneran di paling ujung dari desa, kah? Kok di belakang kayaknya sudah gak ada rumah warga, ya?” heran Vionna sambil celingukan.
“Sepertinya begitu, Vio.”
“Ya, sudah. Kita masuk saja, itu ada penjaganya.”
Keduanya kemudian berdiri sejenak di depan gerbang kos-kosan itu. Mereka menunggu si penjaganya untuk membukakan gerbang.
“Ada yang bisa saya bantu?” Sembari membuka gembok kuncinya.
“Kita mau ngekos di sini, Pak. Apakah ada kamar yang kosong?”
“Sebentar, saya panggilkan pak Benny dulu.”
Eva dan Vio selengkapnya saling menyenggol lengan mereka pelan, bisik-bisik mengenai siapa pak Benny itu. Menurut mereka, pak Benny pastinya sang pemilik kos-kosan.
“Jadi kalian mau ngekos di sini?”
“I-iya, Pak. Saya dapat info dari teman kalau di sini ada kosan,” jawab Vionna pelan.
“Baiklah. Biar familiar, nama kos-kosan saya ini adalah ‘Kos Biru Langit’.”
Eva menelan ludahnya kasar, ia bahkan tak melihat nuansa biru sama sekali di sini. Yang ia lihat hanyalah kos-kosan dengan cat warna cream yang mengelupas di beberapa sudut dan kusen kayu coklat yang kusam.
“Luar biasa, Pak Benny. Kebetulan besok kita mau ada orientasi di kampus, Pak. Jadi malam ini kita bisa langsung menginap, ya,” ujar Eva menawarkan diri.
“Ya, boleh, silakan.”
Vionna sebenarnya sudah tidak enak saat bercakap dengan pria paruh baya itu. Dia merasa ada yang janggal dan ditutupi tapi tidak tahu apa.
“Semua ruangan sudah terisi, yang belum hanya kamar 1, ya. Di paling ujung sana. Berhadapan dengan kamar 14. Ingat, jangan sekali-kali membuka kamar 14, saya sudah lama menutupnya dan tidak seorang pun berhak membukanya termasuk kalian berdua. Oh, untuk biaya kos totalnya 275 ribu, dibayar nanti tiap akhir bulan. Ini kuncinya,” jelas pak Benny panjang lebar dan membuat Vionna serta Eva mengangguk pelan.
“Siap, Pak. Terima kasih.”
“Saya pulang dulu, rumah saya ada di pinggir jalan sebelum ke sini yang dekat warung warna hijau itu.”
“Oh, iya, tadi saya lihat, Pak,” kata Vio mengerti.
“Permisi, ingat, kalau mau keluar-masuk harus ditutup gerbangnya. Saya sangat tak menyukai orang-orang yang lancang.”
“Ba-baik, Pak,” jawab Eva sedikit gagap karena di akhir kata pria paruh baya itu ia seperti sedang menekankan sesuatu.
“Huftt, akhirnya kita bisa punya tempat buat besok. Setidaknya tidak bolak-balik ke rumah-kampus.” Vionna mengibaskan telapak tangannya karena merasa agak gerah.
“Minum dulu.” Eva lanjut menyodorkan sebotol air mineral ke Vionna.
“Vio, sebenarnya ada apa dengan kamar 14? Kok agak merinding, ya?”
“Kita diam saja, yang penting jangan aneh-aneh.”
“Kalau ada apa-apa kita kabur bisa gak sih?”
“Bisa, sih, bisa, tapi kalau dadakan biasanya pemilik kos begitu bisa marah.”
“Hish, benar juga. Ya, sudah mana kuncinya.”
“Ini.”
Eva kemudian membuka pintu kamar 1, nampaknya ruangan yang agak luas menurut mereka dibanding dengan kamar yang lainnya. Ada almari kayu yang bertengger di pojok dekat kamar mandi. Begitu pula TV tapi sudah agak usang yang mana membuat keduanya penasaran apakah masih bisa berfungsi atau tidak.
“Ini yakin ada TV? Coba, Va, diputar bisa gak?” heran Vio.
Cklek.
“Bisa, Vio.”
“Keren sih.”
“Aku istirahat dulu, sudah jam 5 sore, Vio.” Eva lantas merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar itu dengan seksama. Ia pun menghela napasnya pelan, merasa lega karena dirinya bisa lolos di kampus idamannya itu.
Wushhh.
“Apa sih?” Merasa tergugah, Eva pun beranjak dari rebahan santainya, dilihatnya jendela kamar bagian belakang TV itu terbuka lebar karena ada angin yang menyambar dengan cukup kuat.
“Apa ini? Perasaan tadi gak ada apa-apa.”
Selesai ditutup, Eva pun mengambil sebuah kuas bekas tercelup oleh cat warna biru yang mengering di lantai dekat jendela tersebut. Ia tak mengerti mengapa ada benda itu di sana, ia pikir milik Vionna. Tapi sekali lagi ia merasa janggal karena dari tadi tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
“Sudah, Va, silakan kalau mau mandi. Pamali loh, kalau kemalaman.” Itu Vionna yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menggulung di rambut panjangnya.
“Mengagetkan saja, ini punyamu, kah?” Seraya menyodorkan kuas yang tadi.
“Emm, tidak.” Nalurinya lantas menengok ke arah jendela, dan di situlah hal mengerikan terjadi. Vionna merasakan tubuhnya seperti bersinggungan dengan sesuatu.
“Ada apa?” Eva lantas menelan ludahnya kasar.
“Tidak.”
Vionna kemudian tak menjawab pertanyaan Eva karena tidak mau membuat gadis itu ketakutan.
Keesokan harinya.
Kos nampak ramai diisi oleh beberapa calon mahasiswa dan mahasiswa yang memang sudah lama di sini. Eva dan Vionna lantas mengedar pelan, mendapati dari kemarin sejak kedatangan dan semalam kosan ini begitu sepi tapi sekarang berubah dipenuhi oleh beberapa orang.
Lanjut, waktu pun sudah menunjukkan pukul 6, setelahnya dengan cepat mereka berdua pun berjalan ke gang-gang, melaju ke jalan raya supaya mendapatkan angkot menuju ke kampus.
“Kupikir tidak ada orang, Vio.”
“Haha, iya.”
Acara orientasi pun berlangsung sampai tiga hari, Vionna dan Eva merasa kebingungan sebenarnya karena kakak tingkat menyuruh mereka membawa batu yang dicat warna-warni.
“Masa kita harus beli cat yang segitu banyaknya sih, Vio?” gerutu Eva karena uang yang diberikan oleh orang tuanya kian menipis.
“Iya. Aku tidak tahu lagi, menuju di hari ke-tiga ini aku benar-benar capek. Ku pikir akan ada adegan romantis kaya di FTV gitu,” jawab Eva kesal.
“Mustahil, Eva.Tapi tadi aku memang melihat kakak tingkat yang menurutku sangat menarik, tapi gak yakin juga. Mungkin saja dia sudah punya pacar. Skip saja dah.”
“Haha, benar. Kita gak boleh gitu, kita niat ke kampus mau belajar, bukan mau nyari pacar,” timpal Eva menyadari ide konyol dari teman barunya itu.
“Ya. Omong-omong, kalau sudah malam begini memangnya ada toko cat yang masih buka?” Vionna lantas menaikkan alisnya tanda bingung.
“Sudah pasti itu. Pasti gak dibuka maksudnya,” kekeh Eva menyadari usahanya kan mustahil.
“Gimana, dong. Besok kita bisa kena marah tuh sama kakak tingkat. Males hukuman yang aneh-aneh apalagi harus minta tanda tangan sama ketua BEM.” Vio kemudian nampak mondar-mandir di kamar itu, sambil sesekali menggigit kukunya.
“Haha, benar. Modus sih bisa jadi,” tebak Eva karena ia sudah sangat pro dalam hal seperti itu.
“Banyak sih,” timpal Vionna mengerti.
“Vio, aku capek. Terserah, aku mau tidur.”
“Iya. Kau duluan.”
Vionna tidak bisa tidur di tengah suasana malam seperti sebelum-sebelumnya alias (sepi). Ia lantas berjalan keluar dan membeli sabun mandi di warung buat besok dan tidak memedulikan perasaan anehnya sedari tadi. Benar sekali, Vionna sama sekali tak mendapati aktivitas orang-orang di kala malam. Suara jangkrik dan suara orang memalu kayu pun menjadi pelengkap yang tak diduga-duga.
Pun saat menutup gerbang, Vio kembali mendengar sesuatu di kepalanya.
Kak Vio, Kak Vio.
Dan itulah suara pelengkap yang ia dengar sedari tadi yang mencoba mengalihkan perasaannya.
Deggg.
Hingga tepat di mana Vionna kaget bukan main karena ada sesosok wanita berambut panjang yang berjalan sempoyongan menghampirinya sambil membawa boneka beruang dari ujung kamarnya menuju gerbang di mana ia berdiri.
“Oh, istri pak Benny?” Vionna menyipitkan pandangannya, tak mengerti mengapa ada wanita itu dengan gestur yang menurutnya menyeramkan.
“Kak Vionna? Sini, Nak. Ibu sisir rambut kamu.”
Vio dalam hati hanya bisa sedih sekaligus kesal. Karena tak seharusnya wanita berparas indah itu memiliki penderitaan yang menyakitkan. Ya, Vionna tahu kalau istri pak Benny itu mengalami gangguan kejiwaan karena anak perempuannya meninggal akibat kecelakaan dan nampak ada sesuatu yang belum terselesaikan menyebabkan arwah anak itu wafat secara penasaran.
“Bu, kenapa di sini?”
“Saya bosan, dan saya suka melihat teman kamu, Nak. Mirip anak saya,” kekehnya pelan.
“Tapi ini sudah malam, Ibu bisa ke rumah saja.”
“Suami saya berulang kali mengingatkan karena katanya saya sering bersedih.”
“Ah, saya mengerti. Bu, ikhlaskan saja, ya. Lala sudah tak ada di dunia ini. Tadi saya lihat dia kok, ia ingin mengajak teman saya, Eva, bermain. Mungkin karena Eva bisa menggambar.”
“Menggambar?” gumam wanita itu.
“Kenapa memangnya, Bu?”
“Menggambar?”
“Kenapa, Bu?”
“Hikss, itu salah Benny. Itu salah Benny. Itu salah Benny.”
“Sudah, Bu. Dengan cepat Vionna mendekap wanita itu mencoba menenangkan tubuhnya yang bergetar.”
“Vio! Kamu kemana saja! Aku sendirian di sini. Itu kamu ngomong sama siapa, hah!” Kesal Eva, yang mana membuat nadanya naik tidak seperti biasanya. Mungkin karena panik.
Deggg.
Seketika Vionna menyadari bahwasanya ia sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata yang menyerupai istri pak Benny.
“Oh, iya, aku ke situ.”
Sesaat Vionna sampai di depan pintu, ia melihat Eva dengan keadaan gemetar ketakutan.
“Ada apa!”
“Kau ini gimana, kelayapan, aku takut banget!”
“Aku baru beli ini, lah kamu katanya mau tidur dulu.”
“Vio, kamu bisa melihat hantu, bukan? Sebentar, itu warung sebelah memangnya buka sampai jam 12 malam begini?”
“Iya, memang. Husttt, jangan keras-keras, karena kalau mereka tahu aku jadi pusing.”
“Iya, deh, iya. Kan, makanya aku bisa melihat gelagatmu kemarin.”
“Hehe.” Vionna pun hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Dengarkan aku, sebelumnya batu-batu itu tidak kita kasih warna, bukan? Ini aku bangun kenapa sudah berubah begini? Siapa yang melakukan?”
“Sekarang aku tahu, kau diikuti hantu anak kecil, Eva. Namanya Lala, ia ada di pojok dekat TV, tuh.”
“Mana ada hantu bisa mewarnai?” Eva yang terlanjur skeptis pun hanya bisa kesal dengan omongan Vionna.
“Itu kamu yang mewarnai, kamu dirasuki.”
“Hah! Untuk warna?”
“Memang, makanya aku pergi.”
“Ih, kamu nyebelin! Masa aku kerasukan? Ditinggal lagi.”
“Hehe, gakpapa, dia anak yang baik, kok. Cuma pengin bermain aja. Untuk warna ….”
Berarti anak yang istri pak Benny maksud mungkin Eva, bukan aku? Apa wanita itu yang membawa beberapa cat itu atau mungkin … pak Benny sendiri?
Lama berbincang dengan Eva, Vionna lantas tak menyadari jika hantu anak kecil itu sudah pergi dari sana dan berpindah ke kamar 14 lagi, dilihatnya dari luar jendela kamar itu kalau Lala tersenyum ke arah Vionna sambil menunjuk jarinya ke Eva.
Satu pertanyaan penting, mengapa pak Benny melarang yang ngekos di sini membuka pintu kamar itu? Apa ada kaitannya dengan kecelakaan yang merenggut Lala?
“Eva, hantu Lala itu sangat menyukaimu. Aku tidak tahu pasti, tapi kayaknya dia tertarik denganmu. Dia masih di sana, mengawasi kita dari balik kamar 14 dengan senyum sumringahnya.”
“Apa dia … bisa menyakiti?” tanya Eva sedikit ragu.
“Tidak. Tidak sama sekali. Toh, hanya anak kecil berumur 7 tahun, tidak ada niat jahat sama sekali semasa hidupnya.”
“Ini sudah jam 3 pagi, Va. Kita tidur saja atau gimana? Aku sih mau tidur, ya walaupun satu atau dua jam gakppa.”
“Lala juga sudah tidur, ah maksudnya berbaring kaya kita. Satu hal, kalau masih hidup ia mungkin sedang melakukan hal yang sama seperti kita, Va.”
“Hmm, benar sekali, Vio.”
Acara orientasi mahasiswa pun selesai dalam waktu 3 hari, Eva dan Vionna sebenarnya merasa kebingungan entah masih mau bertahan atau pindah. Vionna pikir jika pergi setelah 3 hari di kos ini adalah keputusan terbaik, tapi ia juga sama sekali tak memberi cap jika kos an ini buruk hanya kerena ada gangguan ghaib. Ia hanya merasa capek saja karena jarak kosan ini ternyata terbilang lebih jauh ketimbang yang ada di depan kampus. Vionna benar-benar capek.
3 minggu kemudian,
“Bagaimana, Va?”
“Va, cepat jalannya. Akhir bulan ini kita pamit sama pak Benny. Aku dengar kondisi istri pak Benny kian membaik.”
Tidak ada jawaban.
“Eva!”
Masih tidak ada suara.
“Eva ….”
Lagi-lagi, pemandangan aneh tersaji di hadapan Vionna di mana Eva yang mengalami kesurupan sosok Lala.
“Kak Vionna, aku pinjam kak Eva, ya!”
“Heyy!” Dengan cepat tangan Vionna ditarik Lala yang ada di tubuh Eva.
“Ayo, kita mengecat tempat ini biar bagus, aku tak suka warna ini. Aku sukanya warna biru!”
“Tapi kamu gak punya cat warna biru, Lala.”
Seketika ucapan itu membuat Lala murung.
“Nak Vio, ini saya ada cat biru.”
ujar Benny seraya menatap Eva nanar, ia benar-benar menyesal.
Andaikata kamu hidup, Nak, mungkin kamu sudah seumuran dengan kak Eva dan kak Vio.
Flashback on
“Ayah, bagaimana jika besok aku ikut lomba itu?”
“Baiklah, bareng ayah ya.”
“Beneran?”
“Iya. Ayah sudah tidak sibuk, kok.”
“Ayah tidak marah kalau aku mewarnai kamarku dengan warna biru? Bukannya ayah tak suka melihatku melihat benda-benda itu?” kata gadis kecil berusia 7 tahun itu sambil menunjuk beberapa kaleng cat.
“Tidak. Maaf, ayah hanya lelah saja.”
Keesokan harinya,
Ciiitttttt. Brakkkkk
“Lala!!!!” suara histeris istri pak Benny mendapati putri kecilnya tergeletak tak bernyawa dengan sekujur tubuhnya yang penuh darah dan luka memar akibat terhantam oleh mobil yang melaju dengan kencang.
“Hiks, begini saja kau tidak becus, Benny!”
Benny seketika mematung, menghambur ke tubuh putri kecilnya yang kejang dan perlahan terbujur kaku. Istrinya yang melihat reaksinya pun pingsan di tempat kejadian.
“Itu salah saya, selama ini saya tak pernah memberikan waktu untuknya. Bahkan, di saat Tuhan memberikan kesempatan itu, yang ada hanyalah tangisan dan penyesalan. Ya, benar, sekali. Itu terakhir kalinya saya melihat senyuman Lala. Senyuman harapan di mana ayahnya bisa mengajaknya bersama setelah sekian lama mengingkarinya.”
“Saya mengerti, Pak. Tolong Bapak jangan bersedih lagi ya, mungkin ini untuk pelajaran kita semua supaya menghargai waktu bersama dengan orang tercinta.”
“Ya. Kau benar, Nak. Kamar 14 itu adalah kamar di mana Lala suka menyembunyikan hasil lukisan dia. Bahkan, yang menyakitkan adalah ketika melihat tangan kecilnya gemetar kala melihat saya marah-marah. Sejak hari itu saya semakin merasa bersalah, entah bagaimana saya meminta maaf padanya.”
“Lala tak marah pada Bapak. Dia malah berterima kasih karena di saat terakhirnya ia bersama Bapak.”
“Ti-tidak, saya bersalah.”
“Lala, lihat ini siapa?”
Benny seketika meneteskan air matanya.
“Ayah.”
“Ayo, Nak. Kita corat-coret tembok.”
“Ayo, ayah duluan.”
Lama mereka mengecat tembok kamar 14 itu, dan menyadari kalau ketiganya merasa kelelahan.
“Lala, sudah ya. Kamu gak boleh di tubuh kak Eva terlalu lama. Kasihan,” pinta Vio.
“I-iya.”
“Kita janji bakal mengecat semua tembok di kos-kosan ini, kok, dengan warna biru,” ujar Vionna sambil mengelus lembut rambut Eva.
“Terima kasih, Kak,” balas Lala seraya menatap bangga hasil karya di depannya.
“Ini ayah kamu, Lala. Apa kamu memaafkan ayahmu?”
“Ayah tidak salah, kok. Kita memang sudah tidak ditakdirkan bersama saja,” jawab Lala yang masih bersarang di tubuh Eva.
“Terima kasih, Nak. A-ayah sangat merindukanmu. Tolong tenang ya, ayah bersama kamu.”
“Iya, ayah. Aku pergi dulu, ya.”
“Hiks, iya, Nak.”
Sejak saat itu, arwah Lala tidak lagi bergentayangan, dan istri pak Benny semakin menunjukkan tanda-tanda sembuh dari sakitnya. Kos-kosan yang mulanya suram pun berubah menjadi lebih berwarna sejak kedatangan Vionna dan Eva. Kedua gadis itu yang berpikir akan meninggalkan kos-kosan pak Benny pun mengurungkannya, dan tetap tinggal di sana. Vionna sebenarnya pun merasa lega karena telah membuat pak Benny dan istrinya bisa beraktivitas seperti sedia kala.
“Bagaimana saya bisa bertemu putri saya lagi, Nak Vio?”
“Mudah saja, doakan dia yang baik-baik, Pak.”
“Iya, Nak. Pastinya.”
“Selamat ya, Pak. Kos-kosan Bapak sekarang sudah normal, karena sebelumnya yang ramai bukan manusia, tetapi makhluk apa saya juga kurang tahu.”
“Ini alasan kenapa saya juga sering ketakutan kalau di sini sendirian, Nak.”
“Oh, jadi saat siang-siang itu yang aku lihat bukan manusia, Vio?” Eva pun terkejut.
“Iya, makanya aku heran kenapa kamu bisa lihat. Padahal ini sangat sepi dan hanya kita berdua.”
“Tapi bersyukurlah, sekarang pak Benny sudah tak bingung lagi kenapa kos-kosannya itu sepi,” jelas Vionna.
“Iya, kau benar, Vio.”
“Maaf, Nak Eva dan Nak Vio, waktu itu kamar 14 yang membuka kuncinya saya sendiri, karena terakhir kali saya membuka, beberapa pendatang sebelumnya mengatakan takut karena melihat sosok Lala yang penuh luka di sekujur tubuhnya dan menyebabkan beberapa entitas lain juga ikut terhubung.”
“Jadi … Pak Benny bisa melihat Lala selama ini?” tanya Eva memastikan.
“Tidak sama sekali. Inilah sebenarnya saya suka kalau ada yang mau ngekos di sini, dan berharap ada yang melihat Lala dalam keadaan baik-baik saja. Terima kasih ya.”
“Oh, saya mengerti. Jadi kedatangan kami membersihkan tempat ini ya, Pak?”
“Bisa dibilang begitu. Atas izin Tuhan juga.”
Anak kecil itu hatinya bersih, tak tergores lapisan kebohongan, ia akan otomatis menyukai orang-orang yang berniat baik kepadanya. _Vionna
Tamat

Waaah ini genre horor ternyata. Viona ini unik karena bisa liat hantu. Bisa juga ya, kerasukan ngegambar. Biasanya kan orang kerasukan cuma teriak2 gitu. Suka sama penutupnya. Anak kecil hatinya bersih. Bener banget.
Iya, Kak. Ini genre horor dan ya … kak Vionna ceritanya punya itu, hehe. Yes, jadi Lala memilih Kak Eva sebagai perantara. Karena beliau ini baik banget orangnya.
Iya, Kak. Ini genre horor dan ya … kak Vionna ceritanya punya itu, hehe. Yes, jadi Lala memilih Kak Eva sebagai perantara. Karena beliau ini baik banget orangnya.