Di pagi nan indah dan cerah ini, ternyata tumbuhlah juga aku. 19 tahun yang lalu, belum sempat membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi. Dulu, saat duduk di bangku SMP aku bermimpi ingin menjadi bagian dari salah satu kampus ternama di kota Malang. Membanggakan orang tua yang sudah lelah dan letih melahirkan hingga merawatku menjadi besar yang sekarang. Namun, ternyata Tuhan berkata lain. Di saat umurku yang menginjak perkuliahan, aku gagal, Ya! Aku gagal menggapai impianku itu. Aku hanya bisa berkuliah di kampus yang ada di kotaku. Kampus yang tidak begitu besar dan sangat dianggap sebelah mata oleh kalangan masyarakat di kotaku. Bagaimana perasaan ayah dan ibuku yang awalnya excaited sekali aku akan lolos di kampus yang aku, ayah, dan ibu impikan selama ini ? Apakah mereka kecewa ? Tidak sama sekali. Mereka berdua malah memberikan aku semangat dan motivasi penuh untuk aku tumbuh. Kala itu adakah ocehan yang keluar dari mulut tetanggaku ? Jelas ada. Tidak hanya sekedar ocehan bahkan hingga kalimat yang bersifat meremehkan pun mereka lontarkan kepadaku dan kedua orang tuaku.
Alur hidup manusia memang tidak ada yang bisa menduga dan merencanakannya. Kuliah di kampusku yang sekarang tidak seburuk yang aku bayangkan. Nyatanya banyak sekali kebaikan dan hikmah yang muncul ketika aku kuliah di kampus ini. Bayangkan saja, jika aku kuliah di luar kota, berapa saja biaya yang akan dikeluarkan orang tuaku untuk uang makan, uang kos, iuran perkuliahan, dan masih banyak pengeluaran yang lainnya ? Itu semua terminimalisir dengan aku yang tidak kos dan berhasil lolos mendapatkan beasiswa yang diberikan oleh salah satu bank syariah di Indonesia. Ku pikir kembali, mungkin jika aku kuliah di kampus yang dulunya impianku itu, belum tentu aku lolos untuk mendapatkan beasiswa ini, secara di kampus itu persaingan akan lebih banyak daripada di kampusku saat ini. Memang kampusku yang sekarang tidak seluas dan selebar kampus impianku dulu. Tapi, jika aku lihat lagi sumber daya manusia yang ada di kampus ini tidak kalah jauh dengan kampus-kampus lain. Tenaga pengajar dan mahasiswanya pun tidak sekedar berpotensi tapi juga banyak yang berprestasi. Terlebih lagi kampusku saat ini bukanlah kampus swasta, melainkan Universitas Islam Negeri.
Dua tahun lebih telah berlalu, nampaknya kujalani perkuliahan di kampus ini tanpa beban berat yang memikul. Banyak bertemu orang-orang cerdas dan hebat ? Itu pasti. Mereka bukan dosen ataupun penjaga ruang tata usaha kampus, melainkan sesama mahasiswa sepertiku. Ada yang lancar dalam public speaking-nya, ada yang cerdas dalam berpikir kritisnya, ada yang berbakat dalam bidang non akademiknya, ada pula yang luas dalam wawasannya. Sering aku bersapa dua tiga kata dengan orang-orang yang kuanggap mereka hebat. Duduk melingkar dibarengi segelas kopi adalah teman senja di kala bertukar cara pandang dengan mereka, hingga berhasil membuat pikiran di otakku berkembang.
Bangku kelas menjadi saksi bagaimana jatuh bangunnya aku demi nilai IPK yang terus membaik dan meningkat. Tapi apakah itu mudah bagiku ? Tentu tidak semudah yang aku bayangkan hanya duduk, mendengarkan, lalu menuntaskan tugas-tugas. Banyak yang ingin menggeser nilaiku. Bahkan itu pernah sampai terjadi kepadaku. Kala itu yang ada di pikiranku adalah “Allah memberikan segala ujian ini tidak jauh dari cara aku kuat dalam melewati dan menghadapinya”. Pribadiku bukanlah orang yang pelit akan pertolongan, bagiku siapa pun yang butuh tenaga dan bantuanku akan kuberikan itu semampuku. Dikelasku diam berarti sombong, tidak mau berbagi jawaban berarti tidak solid, tidak masuk perkuliahan tidak ada yang peduli, dan pertemanan pun harus setara dengan latar belakang keluarganya. Memang benar terlihat serba salah! Tapi setelah kukilas balik, ternyata ringan tanganku adalah jurang dasar yang menjerumuskanku. Terdengar mustahil! Tapi nyatanya memang itu yang aku rasakan hingga berakhirnya kelas semester 4 ini. Menolong orang bahkan teman sendiri itu tidak salah, orang yang meminta pertolongan pun juga tidak salah, yang salah adalah berlebihan yang kamu keluarkan. Percayalah semakin kamu menjadi orang yang ringan tangan, semakin pula personal branding kamu dianggap sebelah mata di kalangan banyak orang. Sesekali beranikan untuk berucap “tidak” kepada orang-orang yang lupa akan kata “terimakasih”.
Dari beberapa orang yang menyimpan rasa tidak nyaman dengan kamu, pasti masih ada banyak orang baik yang bisa menerima hadirnya kamu. Di lingkup pertemanan sudah menjadi hal wajar di mataku. Kuncinya ketika kamu berpandang kearah belakang, tidak ada uluran tangan yang sampai di pundakmu. Maka beranilah untuk satu langkah kedepan, karena disitulah kebaikan dan bahagia yang tak terduga akan mendekat untuk datang.

Wow, Adin. Ini refleksi yang menyentuh sekali. Berani bilang “tidak”. Masih banyak loh yang susah bilang gitu.