Kala itu di sekolah Budi Bahasa sedang menadakan debat bertema wawasan nusantara. Debat ini diadakan dengan tujuan menyaring siswa-siswinya yang layak di daftarkan untuk mengikuti ajang debat di tingkat kabupaten.
“Teman-teman semuanya, ini ada pengumuman dari bapak kepala sekolah bahwa sekolah kita akan mengadakan debat wawasan nusantara. Siapapun boleh mendaftarkan diri dengan mengiai formulir ini paling lambat besok.” Pengumuman yang disampaikan oleh ketua kelas kepada rekannya.
“Debat? Wawasan nusantara? Sepertinya menarik.” Ujar Fadiah di dalam hati.
Ketua kelas pun membagikan formulir tersebut kepada temannya satu persatu.
“Apakah ini wajib silahkan Dit?” Tanya Caramel kepada ketua kelas tersebut.
“Nggak sih, kalau kamu mau daftar aja, kalau tidak berminat hiraukan saja formulir itu.” Jawab Adit, si ketua kelas.
Dengan sigap dan semangat Fadiah mulai mempelajari perlahan materi tentang wawasan nusantaranya. Dan keesokan harinya pun Fadiah mengumpulkan formulir pendaftaran lomba debat ke pihak sekolah. Banyak guru yang ragu dengan kemampuan yang dimiliki Fadiah.
“Pak ini formulir debat saya.” Ujar Fadiah kepada salah satu guru yang ditugaskan di bagian pengumpulan formulir pendaftaran lombe debat.
Beberapa menit guru tersebut memandang fisik Fadiah dengan pandangan yang merendahkan dan menghina.
“Yakin mau ikut debat?” Saut tanya seorang guru yang ada di ruangan itu juga.
“Iya saya yakin kok Pak.” Jawab Fadiah dengan berani dan lantang.
Akhirnya formulir pendaftaran milik Fadiah diterima dengan muka yang penuh ragu dan hinaan. Tapi Fadiah pun tidak patah semangat, bahkan gurunya sendiri yang ragu dan hina dengan kemampuan yang ia miliki. Dari benih-benih hinaan itu lah Fadiah belajar bahwa ia harus terus semangat dan membuktikan kepada orang-orang tersebut bahwa Fadiah bisa.
