“Broken Strings”, Broken Heart

Sepanjang long weekend kemarin, kalian ngapain guys? Kalau aku sibuk menamatkan sebuah memoar. Judulnya “Broken Strings” karya Aurelie Moeremans. Sudah terlalu lama sendiri … oops, enggak donk. I mean, sudah terlalu banyak yang membicarakan buku ini. Dan aku belum sempat membacanya. So I start to read this book from Thursday night. Malam Jumat baca kisah “mengerikan”.

Yah, memang mengerikan ceritanya. Apa yang lebih menakutkan ketimbang masa muda yang dicuri? Ketika membaca Broken Strings, aku malah memikirkan hal-hal lain di luar kisah utama. Even cerita utamanya juga tetap mendapat atensi.

Aurellie menceritakan sekilas masa kecilnya di bab pertama. Aku langsung berpikir: relate. Kira-kira aku merasakan hal yang hampir mirip dengan Aurelie. Sebentuk perasaan berbeda; merasa “different” dari yang lain. Fyi mataku kan warnanya biru ya. Itu nggak umum di Indo. Iya lagi iya lagi. Memang ada sih beberapa orang bermanik biru di sini, tapi bisa dihitung jari tangan plus jari kaki. Tetap aja mata biru super langka. Itu membuatku dipuji sekaligus dibully di waktu yang sama. Yang bilang cantik, ada. Yang bilang serem juga ada.

Back to focus. Di bab pertama juga, aku tersadar akan sesuatu. Orang-orang harusnya berhenti halu. Khususnya ciwi-ciwi yang pen nikah sama bule sungguhan. Bule asli ya, bukan yang “setengah bule” atau yang “tampak seperti bule”. Maybe mereka berasumsi nikah sama bule enak. Auto kaya dan segepok privilege lainnya. Bisa tinggal di negeri orang. Nyatanya tinggal di LN nggak seenak itu. Bule miskin/sederhana ada juga, ada banget malah. Pernikahan dengan warga negara asing belum tentu seindah yang dibayangkan. Btw kenapa Mamanya Aurelie justru nggak pengen balik ke Indo ya? Beliau malah maunya stay di Belgia. Adakah sesuatu di negara +62 yang telah mengecewakannya?

Sebetulnya sejak semula Aurelie telah menebar petunjuk bahwa cerita ini akan menyeramkan. Terbukti dari ungkapannya di bab 2 yang berbunyi “belum menyeramkan”. Artinya nih kisah memang bakal nyeremin. Berdasarkan deskripsinya tentang “Bobby”. aku memang udah punya firasat kalau ini orang nggak bener. Red flag.

Dan benarlah kejadian. Dia bendera merah semerah-merahnya. Terkadang, di pertengahan buku, aku sampai mengecek beberapa faka untuk sekadar mencocokkannya dengan isi buku. Misalnya tentang member band Alter Bridge, atau tentang pemilik salon.

Ada satu istilah familiar di buku Broken Strings yang juga kutemukan di tempat lain. Istilah itu adalah internet … eh bukan, internat. First time aku baca tentang internat adalah di bukunya Enid Blyton yang Seri Petualangan. Rupanya internat atau sekolah asrama beneran ada. Dari jaman novel klasik sampai buku modern, tuh sekolah udah eksis aje.

Speaking of novel klasik, membaca memoar Aurelie ini serasa menyusuri cerita-cerita klasik ala novel terjemahan Barat. Aku mengagumi bakat bahasa Aurelie. Meskipun bahasa ibu (bahasa pertama yang dipelajari secara alami) bukan bahasa Indonesia, tulisan Aurelie sangat bagus untuk ukuran orang yang bahasa ibunya bukan Bahasa Indonesia. Terdapat banyak perumpamaan yang puitis juga seperti “cahaya yang menyelinap di balik tirai”. Kak Aurelie ini sepertinya hobi baca buku. Kosa katanya kaya. Dengar-dengar penulisan buku ini sama sekali tidak melibatkan editor. Itu bagus banget. Gaya penulisannya cantik, rapi, dan mengena.

Btw siapa ya, artis sinetron yang membully Aurelie Moeremans? Itu juga bikin aku penasaran. Katanya sih ada satu nama yang disebut, tapi entahlah mana yang benar. Jangan terlalu cepat mempercayai isu. Sebetulnya buku ini tidak hanya berbicara tentang child grooming, tetapi juga perundungan, pelecehan seksual, dll. Bahkan sedikit disinggung tentang dunia pageant yang disebut Bobby red flag itu sebagai “toksik dan palsu”. Masa sih Bang? Bukannya elu ye, yang lebih toksik dan palsu?

Better Aurelie ikut pageant deh tenimbang menghabiskan waktu bersama pria red flag. Banyak gadis yang ingin ikut duta-dutaan. Ada yang berhasil mendapatkannya dan ada yang gagal. Syukurlah aku salah satu yang berhasil walaupun jatuh bangun aku mengejarmu … walaupun aku mesti jatuh bangun nice try dulu sebelum gacor. Terlebih katanya Aurelie ditawari langsung oleh petinggi penyelenggara pageant. Gaskeun sih harusnya. Namun masa mudanya dicuri. Dicuri oleh lelaki yang tak punya hati.

Cara pria itu merampas masa muda Aurelie adalah dengan pernikahan ilegal. Aku jadi mikir ya. Kalau misalkan Aurelie dan Bobby beda agama, ini gampang banget menghindarinya. Tinggal pura-pura nangis bombay aja sambil nyanyi: Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Sayangnya justru mereka malah seagama.

Soal pernikahan palsu ini juga sangat prik ya. Kebetulan aku tahu sedikit tentang agama Katolik walau aku bukan pemeluknya (eh tapi sering disangka Katolik sih). Sedari awal aja udah janggal. Emang pengakuan dosa ke Pastor butuh surat baptis ya? Pernikahan mereka tanpa latihan dulu, tanpa pemeriksaan kanonik dulu. Padahal prosedur Kanonik itu setahuku wajib pakai banget. Nggak bisa langsug nikah, bos!

Lalu soal telepon. Aurelie bilang kalau semua ancaman Bobby, semuanya hanya didasari kata-kata. Kata-kata dibalas kata-kata. Sebetulnya bisa loh, Aurelie ini mengumpulkan bukti. Rekam aja pas dia telponan sama Bobby. Rekaman-rekaman itu bisa jadi bukti. Entahlah ya, orang yang sedang tersudut biasanya sulit untuk berpikir cepat. Mirip-mirip sama orang yang survival mode. Otaknya freeze. Soal bertahan hidup, aku kenal satu orang yang seperti ini.

At least, aku jarang berhenti baca buku di tengah-tengah. Biasanya auto aku beresin. Cuma beberapa buku yang aku nggak tuntas bacanya. Salah satunya Twilight. Aduh, enggak deh. Broken Strings ini juga akhirnya kuakhiri. Dari sini aku belajar betapa berbahayanya manipulasi. Aku yakin banyak Aurelie-Aurelie di luar sana yang mengalami. Tinggal balik ke mereka, mau speak up or berdiam diri.

Ngomong-ngomong soal manipulasi dan kontrol, aku juga merasakannya akhir tahun lalu. Singkatnya ada seorang pria yang berusaha mengontrol tindakanku, memanipulasi dengan special treatment (memprioritaskanku, mengistimewakanku, membanggakanku di depan publik). Terkadang luka bisa muncul dari kepedulian. Tetapi luka pun dapat hadir dari pengabaian. Memang nggak boleh terlalu ekstrem ya. Lantas pria yang namanya bertebaran di media itu, memutuskan mundur setelah tahu aku tak dapat “disetir”. Anw dia juga pernah mencari namaku di media, dan ketemu pastinya. Beruntungnya, aku lebih sat set untuk meraba polanya. Aku hanya butuh beberapa hari untuk menyadari proteksi rasa tekanan itu sebelum akhirnya lepas.

Aku sangat menghargai kebaikannya; perlindungannya. Namun aku pribadi pun punya integritas. Integritas itulah yang kujaga dan kupegang erat-erat biar nggak meletus kayak balon hijau. Sampai kini aku masih merasa hampa akan kehilangannya. Ya, kuakui itu. Aku kehilangan perhatiannya, caranya melindungi dan mengistimewakanku. Akan tetapi harus ada yang kupertahankan: value.

Buat para ciwi, segeralah sadar kalau kalian dimanipulasi. Gunakan otak brilian kalian untuk mengenali pola demi pola. Dan buat semuanya, terlepas kamu itu pria, wanita, atau hemaprodit, jadilah seimbang. Maksudnya gini. Manipulasi/tekanan bisa melukai; pengabaian ekstrem pun bisa membuat patah hati.

Keputusan Aurelie menuliskan memoar Broken Strings sangat berani. Tanpa editor, tanpa ruang aman yang pasti, ia nekat menulis. Padahal sebetulnya ada ruang aman untuk menulis hal-hal yang kurang nyaman dibicarakan. Salah satunya adalah Sekolah Menulis Cantik. Di SMC, apa pun yang tak nyaman boleh dituliskan. Apa pun yang kontroversial menurut orang luar boleh terungkapkan, asalkan tetap dengan ranah yang halus dan sopan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *