Akhirnya acara drama itu pun dimulai. Mulai dari pagi Adit sudah datang di sekolah untuk membagikan konstum kepada teman-temannya dan Agnes saat itu sudah selesai menggoreskan makeup ke para anggota drama. Drama dilaksanakan dengan lancar dan dinilai paling baik dari banyaknya kelas yang mengikuti pentas drama di SMK Budi Bahasa. Drama tersebut dimulai dari pagi hingga sore hari. Dan tepat di sore harinya, pengumuman kelas mana yang menjadi juara pun diumumkan oleh bapak kepala sekolah SMK Budi Bahasa.
“Kepada seluruh siswa-siswiku. Terimakasih sudah mau meluangkan waktu dan menuangkan ide kreatif kalian di acara drama peringatan hari kemerdekaan sekolah kita. Kita semua bagus, tapi harus ada yang menjadi juara dari sekian banyaknya kebagusan itu.” Kalimat pembuka yang diberikan oleh bapak kepala sekolah kala itu.
“Tanpa berlama-lama marilah kita sambut juara drama peringatan kemerdekaan SMK Budi Bahasa periode ke-8 jatuh kepada kelas….”
“Sepuluh…. B……” Ucap bapak kepala sekolah dengan keadaan yang menegangkan.
“Silahkan satu orang perwakilan bisa naik di atas panggung untuk menerima penghargaan dari sekolah kami.” Lanjut bapak kepala sekolah.
Tanpa pikir panjang, tidak ada yang menyuruh dan menunjuknya, Caramel pun langsung naik ke atas panggung dan menganggap dirinya adalah perwakilan dari kelasnya.
“Eh… Eh… Kok…. Dia yang naik?” Tanya Agnes kepada Adit melihat Caramel naik di atas panggung dengan keinginannya sendiri.
“Mana lah aku tau. Biarlah sesuka anak itu saja. Toh aku sudah bangga kelas kita bisa menang akhirnya.” Jawab Adit yang sudah acuh tak acuh melihat perilaku Caramel.
