Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 8]

mie dan perbincangan sekali duduk

Tak lama setelah obrolan singkat dengan Ibu, Mas Gama datang terlebih dulu dengan istrinya. Kemudian tak lama disusul dengan Mas Edy, mereka memutuskan untuk mengobrol di ruang tamu. Aku masih harus menyelesaikan tugas kuliah, mencicil beberapa quiz dan latihan soal. Sedangkan Ibu memilih untuk beristirahat, agar besok lekas pulih.

Tetapi jam menunjukkan hampir tengah malam, hal yang terduga menyelinap begitu saja. Perasaanku yang tadi datar-datar saja sekarang berkecamuk, karena Ibu memutuskan untuk mau dibawa kerumah sakit.

Aku menyiapkan pakaian ganti, dibantu dengan dua Mbak ku yang tentunya lebih telaten dari pada aku.

Ya Allah, padahalkan Ibu sebelumnya enggak mau. Tetapi entah mengapa beliau mau untuk memutuskan pergi.

Aku dan Mas Edy menyusul dengan sepeda motor sedangkan kedua Mbak dan Bapak bersama menjaga Ibu dalam mobil dengan Mas Gama yang mengambil alih kemudinya. Sepanjang perjalanan aku hanya berpikir, Ibu pasti sembuh, Ibu pasti sembuh. Meski lebaran dirumah sakit, aku gapapa.

Asal Ibu sembuh!

Sesampainya disana beberapa perawat responsif membantu Ibu dan bertanya-tanya terkait apa yang dirasakannya. Tak selang beberapa lama infus, dan alat bantu oksigen sudah dipasang. Karena keterbatasan ruangan kami tidak boleh seterusnya masuk secara bersamaan melainkan bergantian, disini cukup lama kami menunggu jam 12 hingga pukul 5 pagi Ibu tak kunjung mendapat perawatan yang semestinya.

Aku cukup jengkel, karena kenapa bisa lama sekali. Aku memperhatikan jalanan yang beberapa dari mereka sudah bersiap untuk sholat Idul Fitri, dan berbeda dengan aku yang masih dengan baju tidur. Serta menanti berita baik datang.

Entah kenapa moodku sedikit jelek, aku merengek meminta pulang. Setelah melihat Mas Gama serta istrinya pulang terlebih dulu, kemudian kami menyusul. Aku, Mas Edy dan Istrinya berboncengan kita bertiga menyusuri pagi di idul fitri tahun ini.

Sampai dirumah yang nampak sunyi, tetapi aku melihat beberapa tetangga sudah bersiap untuk sholat.

Aku memutuskan untuk tidur sebentar. Mungkin baru beberapa menit dirasa terpejam, aku merasakan tangan seseorang yang dingin menggegamku perlahan. Membuatku mengerjap beberapa kali.

“Dek kok Ibu wes moleh??” (Dek kok Ibu udah pulang?) ternyata itu Mba Nani, istirnya Mas Edy. Hampir terkejut setengah mati, aku mencoba memulihkan keadaan dengan meminum sebotol air putih kemudian menyusulnya berjalan.

Aku melihat Ibu berbincang-bincang dengan Bapak, Pakde dan Mas Gama yang tengah menyuapi Ibu oatmeal. Aku bernapas lega melihat Ibu pulang, tetapi aku merasa ada yang aneh kenapa cara bernapas Ibu cukup berat tak biasanya seperti itu.

Dan aku senang juga karena piring itu tandas, tanpa tersisa oatmeal yang biasanya aku buatkan.

Kami berbincang, bercanda cukup lama dan beberapa tetangga juga mampir kerumah kami. Nenek tak ada hentinya meminta untuk beberapa orang untuk ikut serta mendoakan kesembuhan Ibu.

Pagi yang damai tak dirasa semua pertahanan yang berdiri kokoh layaknya sebuah karang pada akhirnya terkikis juga. Perasaan Ibu yang selama ini ditahan dilepaskannya bersama rasa sakit yang ada. Rasa lelahnya, khawatirnya, amarahnya, apapun itu Allah membawanya pergi dengan damai dan bersamaan itu pula rasa sedih tak terbendung menghiasi pagi kala itu.

Harusnya, mengapa, dan kenapa?? pertanyaan itu terus berputar layaknya bianglala.

Dadaku terasa sakit, amat sangat aku tidak bisa mengutarakannya detailnya. Tetapi, seperti ada benda keras yang menahan hingga kau kesulitan untuk bernapas. Ditambah dengan pertanyaan, serta beberapa seruan untuk ini dan itu.

Aku ingin menangis, tetapi perasaan itu tercekat karena beberapa hal yang mengusikku.

to be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *