Lomba debat pun dimulai tepat pada hari Sabtu, pukul 08.00 WITA. Dengan bekal materi yang sudah dipersiapkan Fadiah pun berani untuk tanding debat hari itu juga. Beberapa ajuan pernyataan dan argumen yang disampaikan oleh panitia maupun lawan main, dituntaskan oleh jawaban Fadiah. Dan ternyata salah satu yang menjadi juri di acara lomba tersebut adalah guru yang merendahkan Fadiah ketika pengumpulan formulir pendaftaran kala itu.
Fadiah dan satu teman timnya berhasil menang dan menjadi juara pertama di ajang debat kali itu. Dia berhasil mengalahkan Hanif, laki-laki lebih tua satu tahun dari Fadiah, dimana Hanif sangat digadang-gadang menjadi anak emas di SMK Budi Bahasa karena kelincahan debatnya.
“Ternyata anak yang kemarin itu aku ragukan kemampuannya justru kini berhasil mengalahkan Hanif.” Ujar pak Yudi, salah satu guru yang ditugaskan menjadi panitia penerimaan pendaftaran lomba debat kala itu.
Ketika penyerahan piala dan uang pembinaan kepada sang juara. Pak Yudi tak lupa mengucapkan terimakasih dan selamat kepada Fadiah.
“Selamat ya, ternyata kamu bisa di titik ini.” Ucap selamat pak Yudi kepada Fadiah.
“Iya Bapak, terimakasih kembali.” Jawab Fadiah sambil menerima piala penghargaan dan yang pembinaan tersebut.
Selesai pertandingan lomba debat itu, Hanif menghampiri Fadiah.
“Hei kamu, tunggu dulu.” Teriak Hanif mengarah di langkah kaki Fadiah.
“Aku?” Tengok Fadiah kebelakang.
“Iya kamu. Selamat ya.” Ucap selamat Hanif ke arah Fadiah.
“Oh terimakasih kak. Kakak juga selamat ya.” Ucap selamat balik Fadiah kepada Hanif yang berhasil memenangkan juara 2.
“Aku Hanif, kamu anak kelas mana? Pasti siswi baru ya?” Hanif dengan sopan menyodorkan tangannya ke Fadiah.
“Salam kenal kak, aku Fadiah siswi kelas XB.” Jawab Fadiah kepada Hanif.
Sejak itu lah Hanif dan Fadiah saling kenal, tak sungkan juga Hanif meminta bantuan Fadiah untuk membantu menyelesaikan tugasnya yang dirasa kesulitan, begitu pula dengan Fadiah.

Wow…selamat Fadiah, sampai di titik ini nggak tentu nggak mudah.