Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 4]

mie dan perbincangan sekali duduk

Pagi ini suara agak riuh mendominasi, nenek membangunkanku. Perkataan beliau yang terdengar samar-samar membuatku terbangun dengan cekatan. Sebelum aku beranjak aku memastikan untuk meminum air putih terlebih dulu, kemudian berlalu kecil ke arah kamar Ibu.

Disana ada Bapak yang berkali-kali membaca doa, disusul dengan nenek disampingnya.

Aku berjalan menuju kearah Ibu.

Beliau duduk dengan lemas, dengan mata masih terpejam. Aku meraih jari jemarinya, dingin dan disini rasa takut mengambil lebih banyak dari pada biasanya. Kuku Ibu tidak seperti kebanyakan orang normal, disana coraknya tidak secerah biasanya.

Mulai membiru, aku melihat Bapak memijatnya. Aku mengikuti dengan seksama, dalam keadaan seperti ini aku mulai takut. Ibu, tidak bersuara saat seperti ini aku hanya mendengar Nenek dan Bapak membacakan doa.

Tanganku terus memijat, tangan, kaki, tangan, kaki dan seterusnya hingga kuku pada jari jemarinya mulai membaik. Aku membenarkan selimut yang beliau kenakan, dan beanie yang beliau kenakan. Suasana mulai sedikit mencair, tak lama Bapak menelpon Mas Gama dan Mas Edy.

Bapak menceritakan kronologi yang terjadi, tetapi tidak dihadapan Ibu yang saat ini beristirahat. Keadaannya semakin melemah, Bapak mencoba membujuk untuk diajak pergi kerumah sakit tetapi beliau tetapi berpegang teguh dengan pilihannya kalau tidak mau.

Bapak, Aku, dan Nenek kami berdoa tiada henti agar Ibu lekas pulih dan tak lagi menahan rasa sakit yang ada.

“Enggak nyuci? Baju Ibu udah abis dilemari.”

“Iya Bu, nyuci abis ini.”

“Kaya biasanya ya, kalau bilas yang bersih kaya Ibu.”

Aku mengangguk mengiyakan, hari itu aku mencuci tanpa diawasi Ibu. Huftt, akhirnya beliau percaya dengan pekerjaanku. Hari ini disibukkan dengan mengerjakan pekerjaan rumah, tempat menjemur baju tepat didepan jendela kamar ibu, beliau hanya diam tanpa berkomentar saat aku menjemur beberapa pakaian yang biasa beliau kenakan.

“Kok ngunu se.” (kok gitu sih)

“Sing bener talah, wong wedok kok ngunu nek umbah-umbah” (yang bener dong, orang perempuan kok gitu nyucinya)

Ibu terus berseru ketika cara mencuciku salah, beliau selalu memprotes. Aku mengiyakan meski aku mengerjakannya dengan sama saja. Tidak tahu mengapa, aku berhasil mengingat ujaran beliau kalau harus seperti ini dan ini tetapi berbeda dalam tindakannya. Malah berbanding terbalik alhasil Ibu kembali mengomel untuk kesekian kalinya.

Tetapi hari ini Ibu hanya terduduk diatas kasur tanpa banyak berkata, mengomentari tentang pekerjaanku.

to be continued

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *