![Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 3] mie dan perbincangan sekali duduk](https://sekolahmenuliscantik.id/wp-content/uploads/2026/02/Mie-dan-Perbincangan-Sekali-Duduk-819x1024.png)
Pagi ini seperti pagi-pagi biasanya, tetapi bedanya sejak kemarin ada yang berbeda dengan Ibu. Beliau terbatuk dan tidak ada hentinya, berturut-turut. Membuat Bapak harus begadang menunggui Ibu.
“Pie iki ibukmu batuk terus, digowo ndek rumah sakit ae awakmu nek ndi?” (Gimana ini ibumu batuk terus, dibawa kerumah sakit ya. Kamu dimana sekarang?”)
“Aku jek nang Nganjuk Yah.” (Aku masih di Nganjuk Yah) ‘
Mendengar percakapan Bapak dan Mas Gami, Ibu menyahut dengan lantang.
“Emoh, aku emoh nang rumah sakit pokoe! Wes gausah”
Rasa takut Ibu untuk kembali ke Rumah sakit mengingatkan beliau pada kejadian di ICU, beliau bercerita jika mendapat pengalaman tak menyenangkan dari pihak pelayanannya. Perawatnya enggak ramah, dan Ibu seringkali memanggil beberapa kali tetapi dihiraukan begitu saja.
Mendengar cerita dari Bapak aku ikut kesal, mungkin kalau aku diperbolehkan masuk aku pasti akan ikut serta mengamuk. Tidak peduli, aku akan tetap mengamuk memprotes. Karena aku tau Ibu butuh seseorang untuk mendampinginya, dan penjelasan atas beberapa perkara mengapa tiap memanggil perawat mereka seringkali pura-pura tidak mendengar?
Karena diajak kerumah sakit pun tidak mau, beliau memilih untuk tidur saja berhenti total dengan aktivitas fisik seperti memasak, mencuci, serta persiapan untuk lebaran lainnya. Beralih aku yang mengerjakan beberapa hal.
Tidak semua, karena Ibu kurang percaya dengan hasil kerjaku yang terkadang tidak memuaskan dalam hatinya.
“Aku berangkat dulu ya Bu.”
“Assalamualaikum.”
Ibu hanya tersenyum lemas, dari balik selimut. Aku sangat menyadari beliau sering sakit jika kecapean, ataupun berjalan kaki yang menurut kita tidak seberapa jauh tetapi beliau bisa ngos-ngos’an jika dipaksakan jadi berjalan dengan Ibu harus extra sabar. Mas Gami yang paling telaten diantara kita untuk mendampingi Ibu.
Kemana saja, karena aku merasa Ibu yang dekat dengan kedua putranya. Meski aku terkadang merasa disisihkan, karena hal-hal kecil. Perkara itulah yang membuatku sering berkecil hati. Aku enggak tau apakah semua anak perempuan di dunia juga sama seperti demikian? Ibu seringkali memihak anak laki-lakinya.
Kami juga sering berdebat perkara apapun, tetapi sejak Ibu sakit aku sudah lama enggak mendengar itu semua. Meski beliau masih tetap bawel perkara ini itu aku tidak masalah karena saat ini Ibu hanya punya Aku dan Bapak.
Meskipun itu, aku percaya jika Ibu sangat sayang dengan aku.
Ya, apapun caranya meski dengan marah-marah atau mengomeli aku.
to be continued
