![Mie dan Perbincangan Sekali Duduk [Bagian 2] mie dan perbincangan sekali duduk](https://sekolahmenuliscantik.id/wp-content/uploads/2026/01/Mie-dan-Perbincangan-Sekali-Duduk-2-819x1024.png)
Hari pertama mengajar setelah libur selama beberapa hari menjelang puasa berjalan dengan lancar meski sedikit ngos-ngosan. Karena mengajar waktu puasa juga tetap memerlukan tenaga yang extra, anak-anak tetap berenergik seperti hari-hari biasanya dan rasa semangatnya juga masih sama. Seringkali kalau aku meninggikan suaraku beberapa dari mereka berkata
“Sabar Miss, kan lagi puasa.”
Iya tidak salah sih, tapi yasudahlah.
Aku pulang bersama Bapak dengan muka kusut, karena memang hari ini melelahkan. Ralat, harusnya bukan hari ini aja tetapi setiap pulang kerja. Mungkin tidur sebentar bisa menjadi obat untuk kembali memulihkan energi.
“Bu nanti buka puasa pake apa?”
“Telor dadar aja ya.”
“Yaudah.”
“Mas enggak kesini bu?” kutanya Ibu sambil merapikan beberapa barang yang kubawa pada saat bekerja tadi.
“Enggak tau.”
Aku hanya mengangguk, mengiyakan. Kulihat Bapak kembali menonton TV dan aku memilih untuk berjalan ke kamar dan mengistirahatkan diri.
Bermalas-malasan di Kasur ternyata semenyenangkan itu, apalagi seusai kerja. Tau-tau jam menunjukkan pukul setengah 4 sore, aku bergegas bangun. Berjalan ke dapur dan mendapati Ibu serta Bapak mengobrol.
“Jadi bikin telur dadar bu?”
“Iya digoreng nanti, ini ibu udah siap potongin bawang sama cabe nanti kamu tinggal goreng.”
Aku mengiyakan, kemudian mandi dan Bersiap-siap mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah menunggu untuk dikerjakan. Semenjak kedua kakak ku berkeluarga aku merasakan kesepian yang tak biasa kurasakan. Meski kita jarang mengobrol secara intens tetapi Keputusan mereka untuk tidak tinggal disini ternyata berdampak cukup besar. Mas Edy dan Mas Gami meski banyak pertengkaran yang menyertai dalam rumah kecil kami tetapi hal itu memberi warna tersendiri. Akan ku kenalkan lebih dulu Mas Edy yakni kakak pertamaku dia cenderung lebih pendiam, berbicara seperlunya saja.
Tak pernah mengeluh meski selama kurang lebih 5 tahun mengantar jemputku sekolah, karena jarak antara sekolahku dan rumah cukup jauh.
Kenapa aku dulu tidak memilih dengan jarak yang cukup dekat? Iya karena kapasitas otakku tidak terlalu memadai hahaha. Tapi, disisi lain aku mendapat saran dari kakak kedua ku yakni Mas Gami, agar aku bersekolah disana meski dengan memakan biaya yang cukup mahal. Mas Edy orangnya tidak terlalu keras, dia sabar dan seperti yang ku katakan ia jarang berbicara. Selain Mas Gami, Mas Edy juga menjadi kesayangan Ibu.
Yang kedua yakni Mas Gami, dia cenderung agak bawel dan manja. Meski disisi lain dia manja dengan Ibu ku akui Mas Gami seorang yang pekerja keras diantara keluarga kami. Ia pernah mengajar di sekolah dasar tetapi tidak berlanjut, ia juga pernah membuka jasa kursus komputer bersama Mas Edy namun tidak berjalan lama, kemudian merantau ke kota-kota besar tapi hanya berjalan beberapa tahun karena sakit yang di alaminya. Dan berakhir menjadi pekerja lepas yang suka mendesign sebuah website, aku kurang tau apa namanya.
Hal yang agak aneh waktu pertama kali mendengar ketika Mas Gami hendak menikah dengan Mbak Dhesi adalah.
“Aku tahun ini mau nikah ya Pak, Bu besok mau kubawa kesini dia.”
“Mau ku kenalin ke Ibu sama Bapak.”
Mendengar hal tersebut aku agak sedikit kaget karena seumur hidup Mas Gami tidak pernah mengajak seorang Perempuan datang kerumah sekadar mengenalkan bahwa ini pacarku atau apalah itu. Tau-tau mau mengajak menikah saja. Kayaknya ini hal yang semua Perempuan/wanita mau? Mungkin.
Menyadari perkataannya benar, aku turut Bahagia. Serta ini kali pertama aku melihat Ibu sangat cantik dengan Make-up tipis yang menghiasi wajahnya, karena selama ini beliau sangat menolak keras untuk memakai make-up dan itu kali pertama aku melihat Ibu menggunakan make-up dan menemaninya saat proses pernikahan Mas Gami.
“Kenapa merem-merem gitu bu?” kutanya beliau yang kulihat kurang nyaman pada bagian matanya.
“Gaenak rasane” (Gaenak rasanya)
“Ditahan bentar aja gapapa acaranya ga lama, kan habis itu kita pulang nanti aku bantu bersihin”
Rasa haru bercampur Bahagia karena melihat Mas Gami berkeluarga merupakan hal yang tidak kusangka. Lalu, tak usai lama acara itu berlangsung banyak orang yang mengatakan kalau sebentar lagi aku yang menyusul. Hahaha, mendengar ucapan itu aku hanya tersenyum hambar mengiyakan dan pura-pura tertawa.
Tapi aku bersyukur bahwa ibu selalu mengatakan “Gausah pacaran dulu, biar fokus kuliah” jadi tak perlu repot-repot aku memikirkan apa jawaban yang tepat untuk membalas basa basi mereka yang terkadang seringkali enggak penting. Karena aku memang belum tertarik untuk berjalan kearah sana, aku merasa masih terlalu dini untuk mulai memutuskan berkeluarga.
Aku masih dengan rasa emosi yang sulit di kontrol, aku masih dengan rasa malas mengerjakan pekerjaan rumah, aku sangat tidak bisa memasak, dan aku masih dengan rasa manja, bergantung tentang apapun soal bersosialisasi bersama Bapak dan Ibu.
Karena aku menyadari, aku masih mau dan terus ada samping mereka kapan pun, dimanapun mereka berada. Aku belum mau beranjak untuk tinggal satu atap dengan seseorang nantinya, aku masih mau bermanja-manja dengan Bapak dan Ibu serta aku masih punya banyak mimpi yang ku tuntaskan. Tak hanya itu aku juga belum terlalu yakin bisa untuk mulai memberikan tanggung jawab kepada calon suamiku nanti.
Tapi, kalau dipikir-pikir lebih tepatnya masih belum ada yang mau sih.
Tapi, aku juga enggak terlalu terburu-buru.
Yasudahlah pokoknya demikian!
to be continued

Ternyata rumah yang ditinggalkan kakak juga meninggalkan rasa sepi ya. Terima kasih sudah berbagi cerita di sini, Ratih.
Iya kak 🙁
Terima kasih banyak kak sudah mampir.