Kompetitor Masuk Surga

Di forum terbuka, seseorang berkata.

“Kita nggak usah sedih kalau ada orang ramai-ramai pindah agama. Artinya kompetitor kita untuk masuk surga bertambah.”

Let’s say it’s a dark joke. Rasanya aku pen bilang: humormu itu … final boss! Kayaknya nggak seharusnya ungkapan itu diucapkan, terlebih dipikirkan. Itu tuh harus diiniin. Hiyaaa.

Ok, kita mode serius dulu ya. Istilah “kompetitor masuk surga” sebenarnya bukan istilah yang umum. Memangnya surga hanya seluas rumah tipe 21 sehingga harus bersaing untuk memasukinya? Lantas kita, persona atau manusia, bukanlah Tesla atau Byd yang bersaing ketat di pasar global. Menurut kepercayaan saya (eaaa), masuk surga bukanlah ajang kompetisi. Kita jadi “all in” saja dalam kebaikan dan ketaatan pada Tuhan. Peduli setan dengan orang di sekitar kita. Mau dia pindah agama, fanatik beragama, bahkan menjelma atheis dan agnostik sekalipun. Sejatinya perkara agama adalah privasi tiap persona.

Lagian aku juga heran ya. Perkara pindah agama laksana panggung untuk “menjdge” atau menghakimi seseorang. Bila orang masuk agama tertentu dianggap sangat baik; sebaliknya bila berpindah agama ke keyakinan lainnya dianggap berbuat jahat. Kenapa tidak dihormati saja lantas didukung apa pun keputusannya? Berpindah agama itu berat. Seberat perpisahan kamu dan dia. Masa harus ditambahi lagi bebannya?

Kalau misalkan surga hanya diperuntukkan bagi pemeluk satu agama tertentu, akan menyedihkan sekali untuk pemeluk agama lainnya. Mereka akan berputih mata untuk mendapat surga sebaik apa pun perbuatan mereka di dunia. Ini justru menyimpang dari sifat Tuhan sendiri yang Maha Adil.

Bicara tentang Tuhan, dzat yang maha tunggal ini lebih banyak berjanji tenimbang mengancam. Tengok saja QS 19:61 di Alqur’an; atau Yohanes 14:18 di Perjanjian Baru. Ayat-ayat dariNya lebih banyak mengulas tentang cinta dan kasih dibanding ancaman subversif. Dan aku masih tetap yakin bahwa afeksi Tuhan jutaan kali lipat lebih besar dari pada jilatan api neraka.

Ah udah ah. Segitu dulu refleksinya. Pagi-pagi udah bahas surga dan neraka. Aku memang lagi gemash aja. Tapi ini relate loh sama Sekolah Menulis Cantik. Cuma di sini, ya di sini, kita bebas bahas hal-hal yang di luar sana terkesan sensitif dan kontroversial. Aku selaku founder memang ingin menghadirkan ruang aman bagi kita semua untuk menuliskan topik-topik yang kurang nyaman dibicarakan. Ayo kita gelar karpet … ah, ruang aman di sini. Tidak perlu takut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *