Halo, sobat menulis. Founder cantik balik lagi. Apa kabar kalian di Jumat kedua di tahun ini? Semoga aja hari yang mantap bukan cuma judul lagu, tapi beneran terjadi di hari kalian.
Seperti yang aku bilang di minggu kemarin, aku mau spill tipis-tipis lagi tentang buku baruku yang akan terbit tahun ini yaitu “Hari Minggu Pukul Sembilan”. Hari ini aku akan bahas salah satu tokohnya, Laras. Doi memang bukan MC di bukuku. Namun perannya cukup penting bagi para tokoh utama.
Namanya Larasati Lautner. Beberapa orang kerap memelesetkan nama belakangnya menjadi softener. Nggak salah sih, sebab pribadinya memang soft. Ia bermata abu-abu menenangkan. Laras mewarisi ketenangan Jawa dan keberanian Amerika. Di buku “Hari Minggu Pukul Sembilan”, ia mendirikan platform edukasi kepenulisan bernama “Menulis Cantik”.
Yak, sampai di sini kukira kalian sudah mulai menangkap benang merahnya. Di dalam narasi fiksi, Laras adalah pendiri platform kepenulisan; pelabuhan yang aman bagi Jun, sang tokoh utama; tempat pulang yang nyaman untuk Terry-anak angkat Jun. Laras membawa visinya sendiri sekaligus menjadi bahu tempat bersandar bagi kedua tokoh utama.
Bagiku Laras selaras dengan cerminan diri ini. Laras yang mendirikan platform “Menulis Cantik” adalah refleksi diriku dalam cerita fiksi. Warna mata kami pun bermiripan. Jika Laras bermata kelabu, mataku berwarna biru. Dua hal itu jarang sekaliditemukan di bumi pertiwi.
Tujuan Laras mendirikan platform “Menulis Cantik” untuk memberikan ruang aman bagi perempuan. Itu kata kuncinya: ruang aman. Aku sendiri mendirikan Sekolah Menulis Cantik sebagai ruang aman untuk menulis hal-hal yang kurang nyaman dibicarakan. Apa misalnya? Toleransi beragama; kehilangan; atau apa pun itu yang selayaknya dapat dibicarakan dengan aman.
Jika Laras adalah salah satu pelabuhan kasih untuk Jun dan Terry, maka berikutnya kita akan berkenalan sekilas dengan si pusat gravitasi di “Hari Minggu Pukul Sembilan”. Siapa lagi kalau bukan Jun atau Arjuna Thomas. Tapi itu di artikel lain. Tunggu edisi selanjutnya ya.
Sebelum kita berpisah, aku ingin bertanya pada kalian. Apa visi Laras relate dengan visi di SMC ini? Apa kalian jadi termotivasi untuk mendirikan platform yang sekiranya selaras dengan keresahan yang menumpuk di hati? Ayo cerita di kolom komentar.
