Asa, Topeng, dan Gemati

open.spotify.com/episode/49z4Jz9FVRinxrrltniFPm

Hampir pukul setengah empat sore saat aku pulang dari penjara. Jumat ini kedua kalinya aku menjenguk Mama Mirjam di tahanan. Kali pertama, aku melamar Zilvia-putrinya.

Itu adalah potongan ceritaku. Lembar pertama dari 284 halaman rangkaian kisah berjudul “Asa Assaad”. Cerita roman yang dibingkai nuansa politik, diskriminasi, dan keresahan dari orang-orang yang “tidak dilihat”.

Dalam membuat cerita, kerap kali aku mengincar judul yang bermiripan bunyinya. Tengok saja kata “asa” dan “Assaad”. Mirip kan? Asa bisa diartikan sebagai harapan. Sedangkan Assaad berasal dari lingua Arab yang berarti “si paling bahagia”. Woah, sudah seperti frasa kekinian gen Z saja kan? “si paling”.

Kubuat Asa Assaad sebagai sekuel atas podcast bertajuk “Gemati Empati”. Nah, simak itu. Bunyinya mirip lagi. Gemati berarti kasih sayang. Empati? Yah, you know-lah.

Baik Asa Assaad maupun Gemati Empati sama-sama menawarkan kejujuran. Intinya sama: tentang perundungan atas kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Yang korupsi siapa, yang dibully siapa. Kalau kita menengok ke part genap dari Asa Assaad, sudah lain cerita. Kisah di part genap mengungkap tentang struggle-nya Danish memikul beban von willebrand (ini bukan nama Belanda, tapi nama penyakit) seumur hidupnya. Gegara von Willebrand, Danish menjalani hidup serba hati-hati. Geraknya amat dibatasi. Saat ingin belajar, ia didiskriminasi. Danish bahkan kehilangan cinta sejati. Dia malah menikahi “pilihan aman” alih-alih pilihan hati.

Kedua karyaku yang tadi kuceritakan bersifat jujur tanpa topeng. Banyak alasan manusia memakai topeng di wajah dan hatinya. Sebagian demi menutup luka. Ini relate dengan podcast web series berjudul “Topeng Kebahagiaan Kala” yang diadaptasi dari hasil karya mentee terbaik di kelas fiksi Sekolah Menulis Cantik. Berkisah tentang gadis remaja yang terobsesi membuat warganet jatuh hati, tetapi ambisi itu malah membuatnya kelelahan sendiri.

Membicarakan tentang kelas fiksi, Sekolah Menulis Cantik memang hadir di panggung yang gelisah dan bukannya panggung spektakuler yang megah. Kami tidak melirik tema-tema sesuai trend. Fokus perhatian kami adalah kedalaman dan refleksi. Kesehatan mental adalah salah satu tema yang pernah kami sentuh. Selebihnya adalah toleransi beragama. Masih banyak yang terlalu takut menjamah perbedaan. Kalau semuanya khawatir, biar kami saja yang hadir.

2 Comments

  1. Kak ini saya mau tanya, untuk struktur organisasi gak ada ya? Berati ini dikelola sendiri sama kaka Maurin aja? Kalau ada boleh dong di tampilin di website biar tau siapa aja pendiri dan orang-orang didalam smc

    • Terima kasih ya, untuk remindernya. Iya kamu benar, struktur organisasinya belum ditampilkan di sini. Tentu aku tidak sendirian mengelola SMC. Nanti akan coba ditampilkan di sini yaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *