Bagai mentari yang tetap bersinar di balik awan tebal
Belajar tangguh dan berani berbeda.
Kisah inspiratif Kak Maurin, founder Sekolah Menulis Cantik.
Latifah Maurinta Wigati telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi gemilang. Perempuan muda yang akrab disapa Maurin itu adalah penyandang disabilitas netra. Terlahir dengan vonis glaukoma telah merenggut cahaya dan warna kehidupan dari penglihatannya sejak kecil.
Tentu tak mudah menjalani hari demi hari dari seorang Maurinta. Bully-an atau mendapat tatapan sinis pernah diterimanya. Tapi Maurin tak larut dalam keterpurukan seperti itu.
Limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang telah membesarkan hati Maurin hingga bisa terus berkarya dengan keterbatasannya. Terlihat dari keikutsertaannya di banyak organisasi sejak SMA, kuliah, maupun komunitas sosial umum.
Meski tumbuh besar dari keluarga sederhana, orang tuanya paham betul bahwa pendidikan adalah pelita dalam mewujudkan masa depan madani. Maka saat niatan untuk melanjutkan studi lebih tinggi itu telah gayung bersambut dengan hadirnya Beasiswa LPDP yang inklusif untuk penyandang disabilitas. Maurin lancar menyelesaikan pendidikan S2 Bahasa Indonesia di kampus yang sama tempat ia meraih gelar sarjana, yaitu Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Jalur Beasiswa Penyandang Disabilitas LPDP membantu mewujudkan studinya.
Kemahirannya menggunakan laptop maupun gawai pintar memungkinkan Maurin bisa mengakses banyak informasi dan berjejaring dengan kawan dunia maya. Hobinya adalah menulis, sebanding dengan gemarnya Maurin melahap banyak bacaan. Ada sekian esai baik akademik maupun populer yang telah dihasilkan Maurin. Beberapa juga tuluh
Maurin mengajarkan kita satu hal penting: mimpi tidak membutuhkan penglihatan, ia hanya membutuhkan keberanian untuk terus melangkah. Dalam gelap yang panjang, ia memilih menyalakan pelita sendiri melalui ilmu, karya, dan keyakinan bahwa setiap manusia berhak tumbuh setara. Kisah Maurin bukan tentang keterbatasan, melainkan tentang keteguhan menenun harapan, benang demi benang, hingga masa depan menjadi nyata. Dan dari sana, kita diingatkan:
selama mimpi masih dirawat, tak ada gelap yang benar-benar memadamkan cahaya.
